We have 36 guests and no members online
- Citra Devhi
- Kategori Rubrik
We have 36 guests and no members online
Karya: Rico Majesty Daniel Mitra
Heningnya suatu ruangan beserta isinya. Namun berbanding terbalik dengan keadaan isi kepala Riyo. Pikirannya yang tengah terombang-ambing, membuat Riyo mulai untuk melakukan sesuatu yang menenangkan pikirannya. Riyo berusaha untuk tenggelam dalam mimpinya, namun hal itu urung terjadi. Riyo kembali berpikir tentang hal tidak berguna lainnya.
Kesenangan yang tidak ditemukannya saat itu, menuntut Riyo untuk melakukan hal konyol dengan harapan sesuatu akan terjadi. Tetapi terulang lagi, tidak ada yang terjadi dan tidak ada yang peduli. Riyo mulai terbiasa dengan situasi ini. Situasi dimana sedikit pun perhatian orang rumah tak pernah tertuju pada dirinya. Riyo mencoba menenangkan pikiran. Meneguk segelas air yang ia bawa sebelum memasuki kamar.
“Coba aja ada yang bisa aku ajak sharing (berbagi –red), mungkin semuanya bakal terasa lebih baik,” keluh Riyo dalam hatinya.
Kebingungan yang masih berlanjut masih menjadi masalah utama yang belum terpecahkan. Pukul tiga dini hari, Riyo mencoba berpikir keras tentang jawaban yang ia inginkan. Pertanyaan demi pertanyaan muncul atas kesepian yang ia rasakan.
“Apa mereka gak senang yaa ngobrol sama aku? Apa aku ngebosenin ya? Atau aku memang gak terlalu penting bagi mereka?” ujarnya yang terus mempertanyakan segala kemungkinan.
Pengaruh faktor usia yang baru 15 tahun menjadi salah satu penyebab kelabilan dan pikiran Riyo yang berlebihan. Keputusan yang selalu bergantung kepada orang lain, menyebabkan Riyo kebingungan bila menghadapi situasi ini. Mulai lelah akan pikiran yang berkecamuk, Riyo memutuskan untuk menyalakan laptopnya dan segera menggapai headset yang berada tak jauh dari dirinya.
Mendengar alunan musik, dengan harapan semuanya akan berubah. Namun itu hanyalah ekspektasi yang tidak mungkin terjadi saat itu. Semakin tenggelam dalam kosongnya pikiran, membuat Riyo semakin bingung kepada dirinya sendiri.
“Aku buat cerpen aja deh, biar apa yang mau aku ungkapin, aku tuangin dalam tulisan,” tegasnya, setelah berpikir barang lima menit tentang apa yang harus ia lakukan.
Dimulai dengan beberapa kata dengan penuh kelancaran. Namun ia tersendat di bagian paragraf selanjutnya. Mengungkapkan perasaan yang bahkan ia sendiri tidak bisa lakukan menuntut Riyo untuk berpikir apa yang sebenarnya ia butuhkan.
“Kayaknya aku benar-benar kurang temen cerita deh, aku cuma pingin ada yang bisa ngertiin aku,” gumamnya.
Sekitar 30 menit telah berlalu. Riyo mulai merasa walaupun ia sudah mengungkapkan isi hatinya dalam cerpen ini, namun kejanggalan itu tetap ada dan tidak bisa diatasi. Namun, Riyo tetap mencoba melanjutkan cerpen yang sudah ia garap.
Waktu yang tidak terasa sudah berjalan sekitar 90 menit, menghasilkan rangkaian kata-kata dengan kisah yang mengambarkan dirinya saat itu. Tiba-tiba, ia mulai kebingungan untuk memilih akhir kisah yang diharapkan pembaca cerpennya itu.
“Apa ya yang harus aku tulis lagi? Aku gak mau pembacaku kecewa, tapi aku gak bisa membuat akhir yang menggoda,” ujar Riyo penuh kepasrahan.
Beberapa saat terlewatkan, namun tetap saja, Riyo tidak menemukan jawaban yang menurutnya akan diharapkan pembaca. Riyo mencoba menutup matanya untuk istirahat sejenak. Barang kali dengan terpejam, Riyo dapat menjernihkan kembali pikirannya yang kacau.
Seketika selang beberapa menit Riyo tertidur, munculah sesosok mahkluk kecil berwarna putih terang dari sisi kiri kepalanya. Sosok itu mendekat menuju laptop Riyo yang masih menampilkan cerpennya yang menggantung. Bak sihir, kata demi kata tertulis dalam layar laptop Riyo. Menghasilkan akhir yang menarik, tanpa Riyo ketahui siapa pelakunya. Ia adalah teman kecil Riyo, yang senantiasa muncul kala Riyo penat akan hidupnya yang hambar.
Bali ibaratnya sedang berada di ujung tanduk. Tahun baru, kluster baru. Pariwisata dibuka, begitu pula pembelajaran tatap muka ( PTM ) di sekolah-sekolah mulai dilaksanakan sejak Januari 2022. Berangkat dari data kasus harian Covid-19 yang cukup rendah di akhir tahun 2021, ekspektasinya sektor - sektor tersebut dapat beroperasi seperti semula. Sayangnya ekspektasi tak sesuai realita. Semakin hari, kasus Covid-19 justru kian melonjak drastis.
Di situasi seperti ini, mau tak mau beberapa instansi mulai gencar melakukan berbagai tes Covid-19, seperti Rapid Test dan PCR ( Polymerase Chain Reaction ). Namun anehnya, meski ada oknum yang terkonfirmasi positif Covid-19, sejumlah instansi tidak mau transparan. Tidak ada pemberitahuan seolah tak terjadi apa-apa. Padahal seharusnya seluruh warga instansi tersebut berhak mendapat informasi dan mengetahui kebenaran. Agar mereka dapat memproteksi dirinya sendiri, turut mencegah penularan dan penyebaran Covid-19. Lantas bagaimana jika instansi terus menyembunyikan kebenaran demi keuntungan?
Keuntungan diutamakan, keselamatan warga pun dikorbankan. Bagaimana sektor pariwisata dapat pulih jika wabah masih menyebar? Bagaimana orang tua dapat tenang bila melepas putra - putrinya ke sekolah bak melepas ke medan tempur melawan Covid-19? Mereka berhak tahu. Seluruh warga masyarakat harus mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Kalau sudah begini, bagaimana jalan agar masyarakat mendapatkan haknya untuk mengetahui kebenaran?
Pers menjadi jawaban. Keberadaan pers sangat penting bagi suatu negara. Bagi masyarakat, pers ibarat pelita di tengah kegelapan. Pelita yang mampu menerangi dan menuntun ke jalan yang benar. Pers bersifat independen dan berimbang. Di mana kepentingan rakyat kecil diperjuangkan. Di era reformasi ini, pers tak dihalangi lagi seperti zaman orde baru. Pers sudah merdeka. Di mana berdasarkan Pasal 2 UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers, disebutkan bahwa kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum. Itu artinya kemerdekaan pers sama dengan kemerdekaan rakyat.
Di masa pandemi ini, pers memegang peranan penting terkait pemberitaan Covid-19. Baik informasi penyebaran kasus, vaksin, tindakan pencegahan, dan informasi-informasi lainnya yang membantu masyarakat. Menyelamatkan masyarakat dari kabar hoax yang beredar di media sosial. Menjadi secercah harapan. Menerangi setiap insan yang harap-harap cemas menunggu kabar baik tiba. Pers sejati tentu akan menjadikan kode etik jurnalistik sebagai landasan dari setiap langkah pekerjaan yang dilakukannya. Di mana pers harus selalu mengutamakan kejujuran dan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah. Pers memiliki peran kontrol sosial mengenai bagaimana memastikan pemerintah mengambil kebijakan sesuai dengan tantangan masyarakat di masa pandemi.
Begitu pula dalam pemberitaan Covid-19 di Bali. Kembali ke perrmasalahan semula, di mana instansi - instansi kerap menyembunyikan kebenaran hasil tes PCR dan tes Covid-19 lainnya kepada anggota lembaganya. Pers patut mengungkap kebenaran tersebut demi masyarakat. Demi keamanan siswa belajar di sekolah. Demi karyawan-karyawan pariwisata yang menggantungkan hidupnya di sektor itu. Dan demi keluarga mereka yang menunggu di rumah.
Bila sudah mengungkap kebenaran, tak jarang ada saja oknum-oknum berkuasa yang berusaha membungkam pers. Mereka menyalahgunakan kekuasaan yang dimiliki. Pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers menyatakan kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Itu berarti membungkam pers sama dengan merenggut hak asasi warga negara. Butuh kesadaran di antara semua pihak bahwa pers sebagai media informasi yang memberitakan fakta, kebenaran, dan tak boleh ditutup-tutupi.
Maka bila ditanya ‘pentingkah peran pers dalam pemberitaan pandemi Covid di Bali saat ini?’ Tentu saja jawabannya penting. Sangat penting. Tak hanya di Bali, di seluruh dunia pun pers memegang peranan vital sebagai media informasi dan kontrol sosial suatu negara. Baik persoalan pemberitaan pandemi Covid-19, maupun persoalan lainnya di berbagai sektor, seperti sektor ekonomi, politik, sosial budaya, kesehatan, pendidikan, dan masih banyak lagi. Pers ibarat kompas. Pemberi arah dan penunjuk jalan dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh ketidakadilan. (jyo)