Oleh: Melanie Wijaya
Aku sering merasa hidupku hanyalah folder-folder berantakan. Foto-foto terjebak di galeri, pesan-pesan tercecer di cloud, dan jejak langkah terekam dingin oleh GPS. Semua ada, semua tersimpan, tapi entah mengapa aku tidak pernah tahu di mana sebenarnya diriku berada. Kadang aku bertanya, apakah semua data itu juga menyimpan versi diriku yang dulu yang pernah tertawa, marah, atau menangis, sebelum semuanya menjadi sekadar file dan pesan?
Di antara ribuan folder itu, aku sering merasa kehilangan sesuatu yang tak bisa kuunggah kembali seperti rasa “nyata” menjadi manusia. Mungkin karena itu, aku mulai menulis tentang diriku sendiri, berharap ada bagian yang bisa kutemukan lagi.
Namaku Nina. Seorang siswa kelas sepuluh yang katanya “anak digital”. Segala hal kucatat di status, kuunggah di Instagram, kuserahkan ke ruang maya. Teman-teman bilang aku supel, aktif, penuh followers. Padahal setiap kali layar ponselku meredup, aku merasa jadi bayangan tipis yang menatap dinding kamar kosong.
Hari-hari sekolah berlalu seperti notifikasi yang tak henti berdering.
Pagi: absensi daring.
Siang: tugas menumpuk di aplikasi.
Malam: rapat organisasi lewat Zoom.
Semua mengalir deras, tapi tidak ada yang benar-benar kujalani dengan utuh. Aku hidup dalam aliran data, tapi jarang benar-benar menyentuh hidupku sendiri.
Sampai sore itu, aku melihat Naren. anak kelas sebelah. Ia duduk sendirian di bangku taman sekolah, buku catatan lusuh di pangkuannya. Jari-jarinya bergerak pelan, menggores pena, seolah menenun rahasia di balik garis-garis kertas. Tidak ada ponsel, tidak ada layar.
Aku menghampirinya. “Masih pakai pena?” tanyaku.
Ia menoleh sebentar, tersenyum tipis.
“Kenapa ngga? Kertas ini nggak pernah minta password.”
Aku terdiam. Jawabannya sederhana, tapi seolah membuka celah di dadaku.
Hari-hari setelah itu, aku mulai sering duduk di taman bersamanya. Kami berbicara tentang hal-hal yang jarang muncul di timeline, tentang mimpi yang tak butuh validasi, tentang rasa takut pada masa depan, bahkan tentang kematian yang anehnya terasa lebih nyata daripada jumlah like.
Naren bercerita tentang ibunya yang masih menulis surat dengan tangan. “Kalau surat itu kusimpan, puluhan tahun pun bisa kubaca lagi. Kalau chat? Bisa hilang kalau server padam,” katanya sambil menutup bukunya.
Aku menatapnya lama. Selama ini aku percaya digitalisasi adalah penyelamat, cepat, praktis, dan tanpa batas. Tapi Naren melihatnya sebagai lubang hitam, arsip fana yang bisa menghapus kita tanpa peringatan.
***
Suatu pagi, layar ponselku menyala, namun justru memberiku hening.
Instagramku… kosong.
Akun itu tak lagi ada.
Tidak diretas, tidak diblokir. Hanya… lenyap, seperti rumah yang tiba-tiba berubah jadi padang kosong.
Semua foto, hilang
Semua pesan, sirna.
Semua arsip cerita ulang tahun, konser, liburan, canda dengan sahabat lenyap tanpa pamit. Aku panik. Lari ke ruang guru TIK, menanyakan cara memulihkannya. Jawabannya datar,
“Kadang memang bisa hilang. Sistem error.”
Aku ingin menangis. Seolah seluruh hidupku dikubur bersama server asing.
Naren menatapku lama ketika kuceritakan. “Mungkin ini tandanya kamu diminta mengingat. Bukan sekadar menyimpan, Na..” katanya pelan.
Kata-katanya menancap seperti duri halus. Bagaimana aku bisa mengingat semua? Bahkan wajah beberapa teman lama hanya kuingat lewat foto profil. Tanpa arsip digital, aku seakan kehilangan sebagian diriku.
Malam itu, aku membuka buku catatan kosong, mencoba menuliskan kembali ingatan. Tapi kata-kata tak bisa menampung utuh. Foto-foto telah hilang, dan bersama mereka, hilang pula potongan diriku.
Hari-hari berikutnya aku merasa terasing. Teman-teman masih sibuk membuat story, merangkai feed estetik, tertawa pada komentar di reels. Aku hanya duduk di antara mereka, dengan tangan hampa.
Mereka bilang, “Bikin akun baru aja, Na.”
Tapi rasanya seperti diminta lahir ulang tanpa kenangan.
Sejak hari itu, dunia maya terasa sunyi. Timeline tak lagi berisik, tapi justru sepi dengan cara yang menusuk. Hanya Naren yang tetap muncul, bukan di layar, melainkan di dunia nyata. Ia tetap menemaniku. Kami duduk di perpustakaan, berbagi diam. Kadang ia membaca puisinya pelan, seolah setiap kata ditujukan untuk luka digital yang belum sembuh.
“Kita kira kita abadi dalam server”
Padahal kita hanya tamu yang bisa dihapus admin.
Kita kira kita hidup di layar,
Padahal kita sudah lama hilang dari diri sendiri.”
Aku merinding mendengarnya. Kata-kata itu seperti cermin retak, memantulkan wajahku yang tak pernah benar-benar kukenal. Untuk pertama kalinya, aku sadar. Mungkin kehilangan bukan akhir, tapi cara lain agar kita kembali menyentuh yang nyata.
Sejak malam itu, aku mulai muak dengan notifikasi. Semua terasa bising. Setiap wajah di layar seperti topeng yang diulang-ulang. Aku ingin sesuatu yang lebih nyata, yang bisa kusentuh tanpa takut hilang kalau baterai habis. Aku ingin mencoba cara lain.
Aku mulai memotret dengan kamera analog lama milik ayah, menyimpan tiket konser, sobekan kertas, daun kering. Semua jadi arsip baru arsip yang bisa kusentuh, bukan hanya kutatap. Aku mulai belajar, hidup tak selalu perlu diabadikan lewat pixel. Tapi hidup, seperti layar ponsel, selalu berkedip dengan kejutan yang tak kuduga.
Dulu, Naren sering bilang, “Kalau hidup cuma di layar, nanti lupa rasanya hidup.” Kadang aku menertawakannya, tapi diam-diam aku suka caranya melihat dunia, selalu ingin merekam dengan mata, bukan kamera.
Kami sering duduk di taman sekolah setelah jam pelajaran selesai. Ia menulis di buku kecil, aku menatap langit sore. Tak banyak bicara, tapi cukup untuk membuat dunia terasa penuh.
Malam itu, ponselku bergetar terus-menerus. Grup kelas meledak dengan notifikasi.
Satu pesan terpampang di layar.
“Naren kecelakaan.”
“HAH!?” Suaraku tercekat. Jari-jariku langsung gemetar. Aku menatap layar, menunggu tanda bahwa itu bercanda, sesuatu, apapun. Tapi tak ada.
Pesan lain berdatangan, cepat dan saling menimpa: “Dia di rumah sakit…”, “Katanya parah…”, “Na, kamu tahu?”
Dunia maya jadi riuh. Tapi entah kenapa, dunia di sekitarku justru membisu. Aku menatap layar lama sekali, sampai huruf-hurufnya kabur oleh air mata. Lama aku hanya menatap teks itu. Tidak ada suara, tidak ada gerak. Layar terasa terlalu terang, seolah menyorot kosong di dadaku.
Pesan-pesan berikutnya masuk secara beruntun. Doa, tangis, foto hitam-putih dengan caption rest in peace. Dunia maya berduka dengan cara yang sunyi dan cepat. Aku memejam. Masih berharap ini salah kirim, atau sekadar prank aneh yang tak lucu. Tapi layar tak pernah berbohong, hanya menampilkan apa yang diketik manusia.
Keesokan harinya sekolah penuh bisikan. Semua orang berlomba menuliskan status belasungkawa. Dunia maya seketika riuh. Ironisnya, ia yang paling menjaga jarak dari layar, justru kini diperingati di sana.
Hari-hari setelahnya terasa aneh. Grup kelas masih ramai, tapi tanpa suaranya. Aku membuka chat-nya berulang kali, membaca percakapan lama seperti doa yang tak sampai.
Aku memutuskan untuk datang ke rumahnya. Ibunya menyerahkan sebuah buku catatan. “Nina sayang.. Naren menitipkan ini untukmu” ucapnya dengan suara pecah. “Katanya, kalau sesuatu terjadi, buku ini harus sampai padamu.”
Tanganku gemetar membuka halaman terakhir. Tulisan tangannya terbaca jelas,
“Nina, jangan takut kehilangan arsip digital. Takutlah kalau kau kehilangan dirimu sendiri.. Kalau aku tak ada, tolong simpan aku bukan di layar, tapi di ingatanmu, ya?”
Air mataku jatuh, menodai huruf-hurufnya.
Di malam setelah berkunjung, aku menatap meja belajarku. Ponsel tergeletak diam, seolah ikut berduka. Aku ingin menulis, tapi setiap kata berbelok jadi nama Naren. Sunyi menumpuk seperti tabungan kenangan yang tak sempat diunggah.
Hari-hari terus berjalan, tapi kelas terasa sunyi. Taman sekolah menyisakan bangku kosong yang tak lagi dipenuhi catatan Naren. Aku mencoba berdamai dengan kehilangan. Mungkin memang benar, digitalisasi membuat kita tampak abadi, tapi sebenarnya kita cuma data yang bisa hilang.
Akun bisa hilang. File bisa rusak. Server bisa mati. Namun ingatan, meski rapuh, tetap bisa menyalakan cahaya lebih nyata.
Aku masih aktif di media sosial, tapi tidak seperti dulu. Aku tidak lagi mengejar jumlah likes. Kadang aku menulis puisi di kertas, memotretnya, lalu mengunggah. Bukan untuk viral, hanya agar dunia tahu bahwa ada cara lain untuk mengingat.
Di akhir buku catatan Naren, ada satu kalimat yang selalu kubaca ulang, “Hidup kita hanyalah pixel yang bisa hilang. Tapi rasa kita itu tidak pernah bisa diarsipkan.”
Malam ini, kututup buku itu perlahan. Layar ponselku menyala di meja, notifikasi berdentang. Pesan grup, status baru, berita viral. Aku menghela napas. Untuk pertama kalinya, aku tak membukanya. Aku memilih diam, menatap hening yang akhirnya terasa penuh.
Karena mungkin, justru di luar layar inilah, aku akhirnya menemukan diriku yang dulu hilang. Bukan di server, bukan di feed. Tapi di sunyi yang ia tinggalkan.
Karya cerpen ini berhasil meraih juara 1 dalam kompetisi AKM BEM FBS.