Bali kembali ramai. Trotoar jalan dipenuhi ratusan kepala yang berusaha menyaksikan kemegahan karya seni patung raksasa khas Bali. Untuk kali pertama dalam dua tahun terakhir, pawai ogoh-ogoh kembali digelar pada malam Pengerupukan, Rabu (2/3).
Tak terasa, dua tahun sudah Bali berkutat dengan pandemi. Dua tahun pula, rangkaian Hari Raya Nyepi berlalu tanpa sorak sorai para yowana di malam Pengerupukan. Segalanya berjalan dengan adanya satu dan dua pembatasan. Kegentingan pandemi pada awal tahun 2020 dan melonjaknya kasus Covid-19 di tahun 2021, memaksa Bali untuk vakum mengadakan pawai ogoh-ogoh. Situasi yang menuntut Bali untuk menyesuaikan kondisi, tatkala masyarakat dominan melontarkan kesan akan kurang terasanya ‘makna’ khas Hari Raya Nyepi. Sehingga, momentum Tahun Baru Saka 1944 kemarin, menjadi momen untuk menghidupkan kembali kreativitas masyarakat melalui pawai ogoh-ogoh.
Tak sedikit masyarakat yang menginginkan pawai ogoh-ogoh terlaksana kembali. Sebagian pula beranggapan, berkurangnya makna Hari Raya Nyepi tanpa adanya ogoh-ogoh. Maka, iming-iming protokol kesehatan ketat pun membayangi pelaksanaan pawai ogoh-ogoh tahun ini.
Sebagaimana yang disebutkan Gubernur Bali, I Wayan Koster pada tulisan Khoirul Anam berjudul “Nyepi di Tengah Omicron, Masyarakat Boleh Pawai Ogoh-Ogoh” yang dimuat dalam laman CNBC Indonesia pada 27 Februari 2022. Koster menyebutkan bahwa pawai ogoh-ogoh dilaksanakan maksimum oleh 25 orang dengan syarat disiplin protokol kesehatan Covid-19, seperti memakai masker, sudah divaksinasi dua kali, dan menyediakan hand sanitizer. Selain itu, peserta pawai juga harus mengikuti rapid test antigen yang difasilitasi secara gratis oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
Namun apa yang terjadi di lapangan nampaknya berbeda. Pasalnya, syarat yang diwajibkan Pemerintah Provinsi Bali terbukti tidak sepenuhnya terlaksana dengan ketat di masing-masing desa adat. Di malam Pengerupukan itu, Rabu (2/3), ratusan bahkan ribuan kepala seolah lupa akan adanya protokol kesehatan. Jalanan di beberapa daerah di Bali kian memadat. Masyarakat berbondong-bondong menyaksikan kemegahan ogoh-ogoh yang diarak sekitaran area banjar.
Memang benar, sebuah fakta yang tidak dapat disangkal lagi keberadaannya. Kerumunan di malam Pengerupukan tidak dapat dihindari oleh siapapun. Persyaratan menjaga jarak satu sama lain sudah tak dipedulikan lagi. Bahkan, himbauan memakai masker pun rasanya tidak terpenuhi secara maksimal. Malam itu, semua berbaur menjadi satu, seakan lupa Bali masih dikerubungi kasus Omicron.
Melihat situasi malam itu, kemana meleburnya syarat maksimum 25 orang yang mengikuti pawai? Kekhawatiran akan masyarakat yang belum vaksin pun rasanya tak terlintas dalam benak. Lantas, kemanakah para pecalang (petugas keamanan tradisional di Bali) dan aparatur negara yang bertugas untuk mengatur kondisi di lapangan?
Tentu kehadiran mereka sangat diharapkan. Namun tetap saja, tidak ada yang mampu berbuat banyak. Terbukti, ada sejumlah pecalang dan polisi yang memantau secara langsung di tengah-tengah kerumunan. Tetapi tak ada satupun yang berhasil untuk mengatur ratusan hingga ribuan insan ini untuk mematuhi protokol kesehatan yang ada. Kekhawatiran akan risiko penyebaran kasus baru pun dapat semakin tinggi.
Bila menilik dari kondisi kasus Covid-19 Bali sebenarnya, penambahan kasus baru di Bali memang menunjukkan penurunan. Namun bukan berarti Bali sudah pulih seutuhnya. Hal ini tercermin dari data Satgas Penanganan Covid-19 Bali, yang menunjukkan angka kasus baru dalam sepekan (21-27 Februari) mencapai 4.109 orang atau sebanyak 587 kasus perhari. Angka tersebut masih tergolong besar. Terlebih lagi, Hari Raya Nyepi berlangsung sebulan setelah terjadinya lonjakan kasus Omicron di Bali. Naasnya, penyelenggaraan pawai ogoh-ogoh dapat saja menyumbangkan kluster baru di Bali. Melihat banyaknya pelanggaran yang terjadi, lantas siapa yang bertanggungjawab? Siapa lagi kalau bukan pihak yang mencetuskan dan mengijinkan pelaksanaan pawai ogoh-ogoh: Gubernur Bali, I Wayan Koster! Sudahkah ia bertanggungjawab? Kita semua dan sejarah akan mencatatnya. (mcy/cit)

