Dinamika politik nusantara memanglah terus berkembang. Dewasa ini, peran masyarakat bukan sekadar bystander politic. Berbagai “penggemar” politik kian hari menunjukan keterampilannya dalam validisasi data. Sekarang, substansi data politik tidak langsung diterima masyarakat. Jangan heran jika para pelajar SMA mulai mencari andil dalam argumentasi politik. Berbagai tema hangat seperti politik, kampanye, dan bahkan debat capres mulai merekah sebagai topik pembicaraan siswa di sekolah.
Prioritas waktu tentu penting. Dalam debat, pemanfaatan waktu berbicara adalah hakekat segalanya. Jika hanya diberikan 2 menit, tentu waktu harus dimanfaatkan sebaiknya-baiknya. Capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto hendaknya menunjukan konsistensi hukum dan waktu sebagai calon pemimpin. Memanglah sulit, namun adanya gelar “kepala negara dan pemerintahan” yang mungkin saja diemban, kedua calon kandidat setidaknya dapat memberikan cerminan leadership yang tepat kepada penonton, mengingat acara debat presiden tersebut ditampilkan di seluruh Indonesia.
Terlepas dari kekredibilitasan opini, moralitas berargumen yang ditunjukan kedua pasangan calon kian waktu terus berkurang. Presiden Joko Widodo memang memberikan solusi tentang kekurangan pemerintahannya selama ini. Sayangnya, tak jarang data yang disinggung keliru dan tak konsisten. Di lain pihak, Prabowo Subianto mendominasi pendapatnya dengan argumen bantahan dan gertakan bukan pandangan dan solusi. Seharusnya lebih mendarahdagingkan pemilu sebagai ajang penyampaian resolusi bukan sekadar kompetisi. Para calon presiden hendaknya lebih memaknai argumennya dengan solusi pembangunan nusantara yang kredibel, baik itu melalui penyampaian mekanisme proyek kerja, resolusi pencapaian kerja, serta hal-hal berbobot lainnya.
Hendaknya melekat dalam jiwa para pasangan capres bahwa gelar kepala negara dan pemerintahan Indonesia bukanlah sekadar buah manis perpolitikan belaka. Para calon kandidat seharusnya sadar bahwa title of president ialah cerminan dinamika rakyat kepada dunia luar termasuk negara-negara adidaya. Tentu hal ini bukanlah hal yang picik dan remeh, mengingat calon pemimpin yang baik ialah pemimpin yang bisa memberikan bukti dan solusi bukan sekadar janji dan argumentasi. (red)

