Pertama kalinya dalam sejarah Indonesia mengadakan pemilu presiden dan legislatif secara serentak. Keterikatan pers dalam pelaksanaan pemilu kali ini sangat penting untuk menjamin kualitas dari calon-calon yang akan dipillih. Pers mempunyai kewajiban memberikan informasi yang benar kepada masyarakat dengan tepat, benar dan akurat. Jika hal ini tidak dilakukan maka akan menimbulkan misscomunication di masyarakat.
Banyaknya propaganda yang terjadi mengakibatkan masyarakat semakin memanas. Protes dan saling menjatuhkan menggambarkan kondisi publik saat itu. Dari sekian banyaknya pemilu yang dilaksanakan kali ini, sangat disayangkan hanya pemilihan presiden atau yang bisa disingkat pilpres saja yang paling disoroti. Visi dan misi dari setiap calon legislatif saja tidak semua masyarakat mengetahuinya. Muncul tanda tanya besar dari masyarakat mengenai siapakah calon yang akan dipilih nantinya. Apakah dengan menerka-nerka merupakan salah satu cara untuk menggunakan hak suara dalam pemilu legislatif? Pihak pers seharusnya lebih mengerti mengenai pemilu kali ini yang membutuhkan banyak sekali informasi mengenai pasangan calon. Jangan hanya dari bilik presiden saja yang harus difokuskan, masyarakat juga membutuhkan pemimpin daerah yang berkualitas.
Semakin pecahnya suasana menjelang pemilu lantaran para pendukung dari masing-masing kubu tidak ingin kalah. Acara debat yang ditayangkan di stasiun tv untuk meyakinkan calon pemilih justru digunakan demi menjatuhkan salah satu pihak. Di samping itu pihak media sendiri juga tidak professional. Bagaimana tidak? Akibat ramainya pembicaraan mengenai pemilu membuat pihak media memanfaatkan kesempatan itu demi meraup keuntungan. Salah satu pasangan calon dilihatkan lebih baik dimata masyarakat oleh stasiun tv. Entah memang seperti itu faktanya atau ada hal yang tidak diketahui oleh publik dibalik itu semua.
Media sebagai salah satu pilar demokrasi bangsa dan jembatan informasi yang akan di konsumsi publik harus bisa terus menjaga netralitasnya untuk mencerdaskan masyarakat tentang proses pemilu. Jangan sampai media yang berniat untuk mendamaikan suasana masyarakat justru malah menjadi umpan balik. Masyarakat juga harus lebih selektif mengenai informasi yang diberikan oleh media. (Nnp)

