Lahir dari rahim wanita. Berdiri dan merangkul setiap anak - anaknya, sama rata, sama rasa. Melukiskan jagat tersusun atas kehadiran wanita. Bukan sekadar alasan, tapi, inilah kenyataan.
Anak - anak, pria ataupun wanita, bukanlah hal yang berbeda. Setiap makhluk hidup, memiliki peran dan keunikan masing - masing di bumi. Tidak peduli asal, status maupun derajat sosial, manusia adalah tetap manusia. Kerap, meski peredaran zaman telah berganti, waktu terus bergerak, wanita dianggap kecil. Padahal, mereka, anak - anak bumi baik terlahir yang berbeda kelamin bukan berarti mereka bisa merendahkan ibu sang bumi. Pernahkah, setidaknya memikirkan, merasakan bagaimana rasa hidup yang menggelora jika anak - anaknya sendiri menggeretak kepadanya? Di antara pergantian waktu, subuh ke subuh, selalu saja ibu bumi tetap menyayangi anak - anaknya. Bukannya membenci ataupun murka dengan main kekerasan.
Seharusnya, kelukan kekerasan itu pergi. Menjauh, dan beri kasih sayang serta kesadaran kembali dari kematian. Bangkitkan cinta adalah kunci semua permasalahan ini. Dengan keyakinan, niscaya semua kesakitan akan binasa, kehormatan wanita kembali bercahaya. Ironi, jika ibu bumi tidak kembali lagi ke jalannya, yakni rasa cinta kasih yang memudar.(TIM MP)

