Pernahkah kamu merasa dicintai? Memang apa buktinya? Yakin benar itu yang namanya cinta? Berbicara soal cinta, kadang tak akan pernah bertemu ujungnya. Selalu saja menjadi topik yang menarik untuk dilirik. Apalagi di kalangan remaja, sudah tidak usah diragu lagi. Bahkan, gadis yang belum genap sebulan sejak alami menstruasi pertamanya, berani umbar-umbar kemesraan dengan pacar barunya. Mengatasnamakan cinta katanya. Padahal baru kenal minggu lalu, lewat media sosial pula. Bila semua hal begitu, kata cinta terdengar murahan, gampangan, dan tak ada makna spesialnya lagi. Jika semua pribadi miliki pola pikir macam bocah dilanda cinta monyet, maka di semesta ini tak akan ada lagi yang pahami arti cinta. Mereka akan salah cerna dan salah tunjukkan rasa kasih sayang itu.
Lirik saja mereka sebagai contoh, mereka segelintir kaum disabilitas yang dikurung di rumah oleh keluarga besar. Napas bebas telah habis sudah. Jarang diberi izin keluar dari pengapnya kamar. Sebab keluarga terlalu cemas tetangga sebelah akan menghujat kondisi istimewa itu. Keluarga bilang itu bentuk rasa sayang mereka. Namun, nyatanya seulas senyuman pun tak akan merekah dari bibir mereka yang dikekang dari dunia luar. Dapatkah itu yang disebut dengan cinta? Tentu salah besar.
Namun di sisi lain, memberi kebebasan penuh bagi kaum disabilitas juga bukan rasa cinta yang tepat. Justru terkesan cuek, mengabaikan bagian keluarga sendiri menjadi gelandangan dan bahan olok-olokan masyarakat. Terlanjur ditelan rasa malu, kadang membuat keluarga tak menganggapnya sebagai satu aliran darah lagi. Hingga pilih meninggalkannya di panti asuhan dengan alasan memberi pendidikan yang terbaik. Tapi sudah lewat berbulan-bulan, ditengok sekali pun tidak. Kata cinta pun berakhir jadi tameng dalam alibi membuang anak.
Kaum disabilitas memang istimewa. Sebagai keluarga, rasa cinta yang kita berikan pun juga istimewa. Mereka tak perlu rasa iba, dan berharap dijaga ketat hingga sesak. Mereka hanya butuh hangatnya rasa cinta dari keluarga. Tidak perlu mengukir banyak prestasi hingga seluruh semesta tahu, hingga keluarga besar baru merasa bangga. Bila sedari awal porsi cinta yang diberi sudah pas, bahkan hanya dengan melihat senyuman kecil terbit, keluarga akan sudah bangga luar biasa. (tik)

