Dalam agama Hindu, sebetulnya tak ada sosok penagih utang yang berperawakan kekar nan sangar. Tak juga diteriaki dan digedor pintu rumahnya jika masih menunggak cicilan utang. Lalu mengapa orang Bali buru-buru melunasi utangnya, bahkan ketika pandemi sekalipun? Utang apa itu?
Agama Hindu memiliki dan meyakini sederetan warisan kitab suci. Masing-masingnya memuat berbagai macam ajaran dan konsep kehidupan. Ada salah satu ajaran yang dikenal dengan sebutan Tri Rna, yang berarti tiga utang yang harus dibayar oleh manusia Hindu, Penjelasan mengenai ajaran itu tercantum dalam Kitab Manawa Dharmasastra. Berbunyi, “Kalau ia telah membayar tiga macam utangnya, kepada Tuhan, kepada leluhur, dan kepada orang tua, hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir, ia yang mengejar kebebasan terakhir itu tanpa menyelesaikan tiga macam utangnya akan tenggelam ke bawah.”
I Ngurah Sedewa Sudiarsa (38), salah satu guru agama Hindu di SMAN 3 Denpasar, dengan senang hati membagikan pandangannya mengenai bentuk Tri Rna. “Dalam konsep Tri Rna, orang Hindu memiliki tiga utang yang harus dibayar. Terdiri dari Dewa Rna, Rsi Rna, dan Pitra Rna, yang dimana dapat dibayar dengan Panca Yadnya. Salah satu bentuknya adalah Upacara Metatah yang tergolong Manusa Yadnya,” jelas Sedewa Sudiarsa saat dihubungi via daring oleh tim Madyapadma pada Jumat (26/11).
Dalam pelaksanaan Upacara Metatah (Upacara Potong Gigi - red), Sedewa juga menjelaskan makna dari upacara tersebut ialah bentuk pengurangan unsur-unsur Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia - red) sehingga nantinya mampu dikendalikan. Selain itu, jika Upacara Metatah telah digelar dan berjalan sesuai tata upacaranya, maka saat itulah orang tua berarti sudah melunasi utangnya. “Jadi ya, yang melahirkan anak tersebut, sebagai orang tua wajib melaksanakan Upacara Potong Gigi itu. Banyak orang tua berpikir ketika sudah tua, apabila belum dapat melaksanakan Upacara Metatah anaknya, biasanya akan ada beban dalam dirinya,” kata Sedewa Sudiarsa.
Nyatanya, hal itu pun dirasakan oleh Ni Made Suastini (59). Nyaris sebentar lagi menyandang kepala enam, Suastini akhirnya dapat bernapas lega. Mengetahui putri bungsunya, Ni Ketut Sri Pradnya Diani (17) telah melalui Upacara Metatah. “Tentu sangat lega, upacara berjalan lancar tanpa masalah yang berarti. Saya berhasil mengatur upacara serta memenuhi kewajiban saya sebagai orang tua,” ungkap Suastini.
Sayangnya, upacara yang digelar keluarga Suastini bertepatan kala pandemi Covid-19 masih menghantui. “Saya khawatir karena upacara adat di Bali terbiasa mengundang banyak orang dari saudara atau tetangga. Saya mengkhawatirkan anggota keluarga saya yang sudah berusia lanjut. Kalau kecewanya tentu karena Upacara Metatah yang dilaksanakan sekali seumur hidup, jadi tidak dapat dirayakan secara meriah dengan mengundang banyak teman saya,” sungut Sri Pradnya. Siswa asal SMAN 3 Denpasar itu, menyebutkan jika upacara potong gigi tersebut dilangsungkan di kediaman keluarganya, kawasan Letda Made Putra, pada 28 Oktober lalu. Pemilihan tanggal itu memang sesuai dengan masa berlalunya Buda Kliwon Pegat Uwakan (21 Oktober) yang diyakini sebagai Dewasa Ayu (hari baik - red) untuk melangsungkan Upacara Manusa Yadnya.
Sementara, jika melihat grafik Covid-19 di Bali, semenjak tanggal 21 Oktober hingga 21 November, sebetulnya daerah Bali tengah mengkhawatirkan. Sebab terjadinya peningkatan kasus harian hingga 31,80%. Suastini pun menyadari jika memang kondisi tengah tak mendukung upacara itu. Namun, apa boleh buat, rencana Metatah sekaligus Pawiwahan (pernikahan - red) telah disusun sedari tahun 2019 awal. Ketika Covid-19 masih asing didengar. Besar anggaran pun juga sudah ditargetkan dan berusaha dikumpulkannya dengan bekerja sebagai seorang guru. Sampai akhirnya corona datang dan merampas senyum Suastini.
Berusaha menaati protokol kesehatan yang telah beredar, serta tentunya ingin melindungi kesehatan sanak saudara, Suastini dan keluarga besar pun memutuskan untuk memangkas undangan upacara. “Saya khawatir tentang bagaimana pandangan masyarakat terhadap upacara yang saya adakan. Komentar seperti, ‘Kok tidak mengundang? Buat upacara kenapa sembunyi-sembunyi?’ cukup menjadi beban pikiran bagi saya. Meminta izin upacara kepada kepala lingkungan, pecalang, dan sebagainya juga melelahkan. Namun kini upacara telah selesai, komentar dari orang-orang juga saya anggap sebagai angin lalu,” tutur Suastini tegar.
Dalam pandangan Sedewa Sudiarsa, perjuangan orang tua dalam menuntun anaknya sampai di proses upacara potong gigi, memang sangat patut diapresiasi. “Itu adalah salah satu contoh spirit atau semangat dorongan dari orang tua. Tapi, sejatinya agama Hindu itu fleksibel. Upacara Metatah itu tidak harus dipaksakan, misal ketika masih tidak ada dana, maka masih dapat menanti waktu yang tepat,” ucap Sedewa Sudiarsa. Meski sebuah kewajiban untuk membayar utang, Sedewa juga menyarankan bila alangkah baiknya upacara itu dilaksanakan ketika pandemi Covid-19 telah berlalu. Tanpa mesti terburu-buru membayar utang. Keluarga dan sahabat pun jadi bebas bertandang. Sehingga tak perlu takut Covid-19 akan menyelinap di tengah jabatan tangan selamat Metatah. (ek/kar)

