Dinilai sebagai salah satu solusi yang tepat dalam proses transaksi, uang elektronik kian menjadi akrab dengan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Terutamanya mereka para remaja. Bagaimakah peran remaja dalam perkembangan uang elektronik?
Pandemi Covid-19 menuntut kita untuk selalu menjaga jarak dari orang lain dan semampu mungkin untuk tidak menyentuh benda-benda di sekitar. Mengetahui keadaan tersebut tentu banyak orang berpikir dua kali untuk bertransaksi menggunakan uang tunai. Sebab kita tidak tahu apakah uang kembalian yang diberikan aman dari virus atau tidak. Kecemasan ini diungkapkan oleh Ni Kadek Melly Putri (22) selaku salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Saraswati. Melly Putri mengatakan bahwa, "Di masa pandemi ini kita dituntut untuk menerapkan protokol kesehatan terutama tentang transaksi. Karena dapat dikatakan uang menjadi ladang penyebaran virus. Jadi, adanya teknologi seperti ini dapat saja membantu kita di masa pandemi untuk menjaga diri dan tetap menerapkan protokol kesehatan."
Selain itu menurut I Putu Fendy Arya Saputra (17) penggunaan uang elektronik untuk bertransaksi akan mengurangi intensitas masyarakat bepergian keluar rumah. "Kita tidak perlu lagi membayar secara manual apalagi sekarang ini merupakan masa pandemi dan kita juga dapat tinggal bayar dari rumah tanpa harus lelah untuk bayar langsung ke tempat tersebut,” tutur Fendy Arya, salah satu siswa SMA PGRI 4 Denpasar saat diwawancarai via daring pada Selasa (17/11).
Uang elektronik saat ini bukan hal asing lagi di telinga masyarakat. Tercatat sebelum Covid-19, penggunaan uang elektronik ini sebenarnya sudah meningkat cukup pesat. Bank Indonesia (BI) mencatat, volume transaksi uang elektronik pada akhir 2019 melonjak 79,3% menjadi Rp 5,2 miliar transaksi dibandingkan 2018 yang sebanyak Rp 2,9 miliar transaksi. Dalam kurun waktu yang sama, nilai transaksinya pun meningkat sebesar 208,5%, yaitu dari Rp 47 triliun pada 2018 menjadi Rp 145,2 triliun pada 2019. Per Agustus 2020, total transaksi uang elektronik sebesar Rp 127 triliun. Nilai ini akan terus meningkat hingga akhir 2020 menjadi Rp 196,9 triliun. Berdasarkan Research Director Customer Experience Ipsos Indonesia Olivia Samosir, dalam penelitian tersebut tercatat bahwa 68% pengguna dompet digital adalah milenial.
Peran generasi muda memang akan sangat diperlukan dalam memanfaatkan perkembangan IPTEK, terutama fasilitas uang elektronik. Apalagi setelah pandemi Covid-19 ini uang elektronik menjadi pilihan yang tepat dalam bertransaksi. Ni Made Yuni Argiani (20) pun mengakui hal tersebut. "Peran generasi milenial sangat banyak, apalagi sekarang sudah sangat praktis. Dengan menggunakan teknologi ini, pasti sudah banyak sekali generasi milenial yang memakai bahkan ada juga yang mengembangkan teknologi baru untuk uang elektronik. Di masa pandemi ini, saya lumayan beberapa kali memakai teknologi tersebut seperti untuk belanja online atau memesan makanan dengan saya OVO, Go-Pay, dan aplikasi lainnya,” papar Yuni Argiani.
Di sisi lain juga, ada banyak harapan yang disimpan oleh Melly Putri terhadap inovasi-inovasi remaja masa kini. "Peran generasi milenial dapat dari berbagai hal misal mengembangkan teknologi baru kedepannya untuk memudahkan transaksi apapun. Generasi milenial memiliki kesempatan dan kemampuan yang besar untuk mengembangkan tekonologi dan inovasi-inovasi baru untuk dapat kita gunakan nantinya," harap Melly Putri. (mo/dp)

