Seluruh kabupaten di Bali masih betah berada dalam status zona orange. Posisi itu didapat semenjak tanggal 1 November hingga 8 November lalu. Sementara itu, wacana pembelajaran tatap muka telah dinanti-nantikan oleh para siswa. Masihkah ada harapan?
Belakangan ini, mayoritas masyarakat menyadari adanya penurunan jumlah kasus Covid-19 di Bali. Apabila dilihat daridata akumulasi kasus Covid-19 di Bali, selama periode bulan September-Oktober 2020, telah terjadi penurunan kasus positif harian sebesar 21,17% dan penurunan kasus kematian sebesar 28,87%. Adanya kabar bahagia tersebut, membuat beberapa spekulasi dan harapan baru bermunculan. Salah satu di antaranya adalah peluang pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan.
Namun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menegaskan, hanya daerah yang berstatus zona kuning serta hijau yang diizinkan menggelar pembelajaran tatap muka. Sayangnya, semenjak tanggal 1 November hingga 8 November lalu, Bali masih nyaman menduduki zona orange.
Menurut Ketut Suyastra (59), selaku Kepala Sekolah SMAN 8 Denpasar, meskipun faktor kondisi lapangan menjadi acuan, peluang tatap muka juga digenggam oleh keputusan orang tua siswa, Komite Sekolah, dan Dinas Pendidikan. Ketut Suyastra pun mewanti-wanti agar tak terburu-buru mengambil langkah. "Setiap sekolah sudah menyiapkan diri untuk pembelajaran tatap muka. Sebaiknya jangan memaksakan bila belum ada petunjuk yang jelas dan berkompeten," ujar Ketut Suyastra ketika dihubungi oleh Tim Madyapadma pada Selasa (10/11) secara daring.
Bentuk kecemasan pun nyatanya juga datang dari kalangan siswa. I Gusti Ngurah Bagus Picessa Kresna Mandala (17), salah satu siswa SMAN 3 Denpasar, beranggapan kondisi terkini masih belum cukup aman untuk membulatkan keputusan pembelajaran tatap muka. "Siswa yang bersekolah belum tentu memiliki imun yang kuat. Bisa saja lemah dan siswa menjadi carrier Covid-19. Klaster sekolah bisa terjadi nanti," tutur Bagus Picessa khawatir.
Di sisi lain, Ni Nyoman Ayu Rustikawati (57) selaku Guru Bahasa Indonesia dan Wakil Kepala Sekolah BidangKurikulum SMAN 3 Denpasar, telah memiliki beberapa rencana yang diharapkannya dapat tercapai, jika pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan. "Jika sekolah sudah offline, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah yang utama tetap mengikuti protokol kesehatan, yakni, menggunakan masker atau face shield, menjaga jarak, mencuci tangan, bahkan bila perlu menggunkan sarung tangan saat mengajar di kelas. Mengingatkan juga kepada para siswa untuk selalu menerapkan protokol kesehatan saat berada di sekolah," papar Ayu Rustikawati.
Selain itu, dalam pandangan Ayu Rustikawati, terlepas dari cepat atau lambatnya pemberian vaksin Covid-19, diharapkan agar pemerintah senantiasa memberi perhatian dan peringatan terkait pencegahan penularan Covid-19. Tetapi tetap yang utama adalah kewaspadaan dari diri sendiri. "Dihimbau juga kepada masyarakat untuk selalu disiplin pada diri sendiri untuk selalu mengikuti protokol kesehatan terkaitpencegahan penularan Covid-19. Semoga dengan kedisiplinan kita semua, sekolah segera dapat dibuka,” harap Ayu Rustikawati. (mo/dp)

