Kelas daring memang menggoda pelajar. Mereka tak lagi repot-repot berjalan atau mengebut membelah jalanan. Cukup di atas ranjang pun mereka dapat menempuh pendidikan. Cukup dengan satu klik, jutaan jawaban dapat bermunculan. Sekilas terkesan seperti impian. Namun tak ayal, kini justru belajar tatap muka dirindukan.
Setiap pelajar, barang sekali pasti pernah merasa malas berangkat ke sekolah. Entah itu karena materi pelajaran yang sulit dipahami atau boleh jadi guru yang mengajar tak begitu disukai. Namun, semenjak dihadang pandemi Covid-19, belajar tatap muka menjadi salah satu rapalan doa para pelajar. Sebab, sudah bukan rahasia lagi, jika semenjak resmi diterapkan pada 16 Maret lalu. Sistem Pelajaran Jarak Jauh (PJJ) menuai banyak protes dan kritik. Walau demikian, belajar tatap muka tak dapat dilaksanakan hanya karena sebatas rasa rindu. Ada ketentuan dan kondisi daerah yang mesti ditinjau lebih dulu. Lantas bagaimanakah persepsi remaja Denpasar memandang peluang belajar tatap muka di Bali?
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Tim Madyapadma kepada 100 remaja di Denpasar dengan batasan usia 13-20 tahun pada tanggal 7 – 9 November 2020. Responden polling terdiri dari 64% perempuan dan 36% laki-laki. Dengan memanfaatkan formulir google menggunakan metode acak sederhana.
Hasil yang diperoleh, menunjukkan sekitar 42% pelajar menginginkan pembelajaran dilangsungkan secara tatap muka kembali. Bahkan 38% lainnya, mengaku sangat mengharapkan dibukanya lagi gerbang sekolah. Ada pun beberapa faktor yang membentuk keinginan tersebut. “Selama ini, pembelajaran kurang efektif, banyak materi yang kurang masuk ke otak. Guru hanya memberi penjelasan melalui Youtube atau lewat media lain, kebanyakan siswa masih belum mengerti dan mengalami kesusahan bertanya kepada guru. Jadi seperti kurangnya rasa interaksi antara murid dengan guru,” ungkap Putu Mayeni Savitri Sastra (16) salah satu siswa SMAN 1 Denpasar, yang dihubungi via daring oleh tim Madyapadma pada Minggu (08/11).
Walau begitu, kondisi daerah dalam bergelut melawan Covid-19, mesti jadi prioritas dalam penentu keputusan. Semenjak Agustus lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah memberi izin bagi sekolah yang berada dalam zona hijau dan kuning. Meski telah mengantongi izin, pembukaan sekolah tetap akan didasari atas kesepakatan bersama antara pemerintah daerah, pihak sekolah, serta orang tua siswa. Ketentuan peta risiko itu pun telah diketahui oleh 71% remaja Denpasar.
Bagi I Gede Sulaba Rama (16) salah satu siswa SMAN 3 Denpasar, adanya persyaratan zona tersebut merupakan hal yang tepat. “Zona hijau dan zona kuning merupakan daerah yang bisa dikatakan cukup aman terhadap penyebaran Covid-19, oleh sebab itu pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan,” ujar Sulaba Rama singkat.
Dikutip dari Kumparan, zona hijau menunjukkan daerah yang tidak memiliki kasus terkonfirmasi atau tanpa ada pelancong yang terinfeksi. Sementara zona kuning berarti masih memiliki kasus transmisi lokal, namun tanpa terjadinya penularan kelompok. Berdasarkan data dari peta risiko Covid-19 pada halaman covid19.go.id, per tanggal 1 November di Indonesia terdapat 3,70% zona merah, 20,23% zona kuning, 3,89% zona hijau, dan 72,18% zona orange. Bali pun menjadi salah satu di antara golongan zona orange tersebut. Pasalnya per tanggal 1 November 2020, seluruh kabupaten di Bali tercatat berstatus zona orange.
Fakta itu pun nyatanya tak disadari oleh 55% remaja Denpasar, sementara 31% lainnya menyadari hal tersebut. Luh Aris Canti (17) sempat menaruh harapan yang tinggi pada kondisi Bali terkini. “Aku kira bakal makin membaik, tapi ternyata belum. Mau kemana jadinya khawatir, bukan cuma takut interaksi aja. Tapi aku juga khawatir sama nasib ekonomi kita,” tutur Luh Aris, siswa asal SMK Teknologi Wira Bhakti Denpasar ini.
Kendati begitu, terkait kondisi Bali, di sisi lainnya remaja Denpasar tampak menyadari adanya penurunan grafik kasus Covid-19 di Bali. Hal itu sesuai dengan 51% suara yang menyatakan demikian. Sedangkan 34% lainnya mengaku tidak menyadarinya. “Grafik penyebaran Covid-19 yang melandai di Bali tentunya hal yang baik. Namun, tetap menjadi keresahan dalam masyarakat karena beberapa orang sudah ada yang melanggar protokol dan juga masih ada beberapa masyarakat yang tidak menggunakan masker,” kata Ida Ayu Nadia Reisa (17) siswa asal SMAN 5 Denpasar.
Meski terdapat sederetan fakta tersebut, 51% remaja tetap optimis meyakini adanya peluang pelaksanaan pembelajaran tatap muka dalam waktu dekat ini. “Masih ada peluang, karena vaksin untuk Covid-19 akan ada nanti di Indonesia,” ujar Bayu Aditya (16) siswa asal SMAN 7 Denpasar. Tetapi 13% remaja mengakui tidak adanya peluang untuk menggelar pembelajaran tatap muka dalam waktu dekat. “Karena situasi pandemi yang kian memburuk menyebabkan belajar tatap muka tidak bisa dilaksanakan, akan terlalu riskan jika dijalankan,” ucap I Wayan Febrian Darma Putra K (17) siswa asal SMAN 6 Denpasar. Dalam pandangan Febrian Darma, bila gegabah mengambil langkah, pembelajaran tatap muka justru dapat mendatangkan musibah. “Hal ini sama dengan mempertaruhkan generasi kedepannya, oleh karena itu saat ini lebih baik menggunakan metode belajar daring,” tambah Febrian Darma memperingati sembari mengharap tapi cemas akan belajar tatap muka di kelas saat pandemic Covid-19. Hmmm…. (kar)

