Rekasadana “Jaratkaru: Lampan lan Utang sane Mekutang”, dipersembahkan oleh Kawiya Bali pada Senin (23/2) pukul 17.00 WITA di Gedung Ksirarnawa Denpasar, menghadirkan tafsir modern mitologi Jaratkaru tentang tanggung jawab sosial generasi urban melalui teater Bali kontemporer.
Di tengah derasnya arus modernisasi yang kian menjauhkan generasi muda dari akar tradisi, sebuah kisah mitologi Bali justru kembali menemukan relevansinya di panggung seni teater.
Rekasadana (Pagelaran) ‘Jaratkaru: Lampan lan Utang sane Mekutang’ yang dipersembahkan oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali, bertempat di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Centre Denpasar dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII 2026 menghadirkan tafsir baru tentang makna “utang”. Bukan sekadar kewajiban kepada leluhur, tetapi juga tanggung jawab sosial yang melekat dalam dinamika kehidupan manusia. Pertunjukan ini menjadi ruang refleksi kolektif, ketika mitos masa lampau dipertemukan dengan realitas urban yang dihadapi generasi saat ini.
Salah satu seniman teater Bali, Ni Luh Putu Putri Suastini, memandang bahwa pagelaran Jaratkaru ini menunjukkan kemampuan generasi muda dalam mengadaptasi cerita tradisional ke dalam pendekatan artistik yang lebih kontekstual. Transformasi kisah klasik ke dalam bentuk teater modern dinilai mampu menghadirkan pengalaman baru tanpa menghilangkan esensi nilai yang terkandung dalam cerita aslinya. “Anak-anak mampu menangkap pesan Jaratkaru dan membawanya ke konteks masa kini. Penampilan vokal, olah tubuh, musik, dan dialog tampil sangat luar biasa,” tutur perempuan berkacamata ini.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Kawiya Bali, I Putu Suryadi, menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan bagian dari upaya komunitas dalam berpartisipasi mendukung pelestarian budaya melalui media seni pertunjukan. Kawiya Bali sendiri mewadahi para wartawan serta penulis budaya yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan literasi dan kesenian, mulai dari diskusi, bedah buku, hingga produksi karya seni.
Pemilihan kisah Jaratkaru disesuaikan dengan tema utama Bulan Bahasa Bali tahun ini, yaitu Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa. Namun, cerita tersebut tidak ditampilkan dalam bentuk seni tradisional seperti drama klasik atau sendratari, melainkan diadaptasi ke dalam format teater Bali modern. “Kami mengadopsi pementasan ini bukan secara mentah seperti bentuk tradisi awal drama, tari, atau sendratari, melainkan mengembangkannya menjadi teater modern,” jelas laki-laki yang akrab disapa Leonk ini.
Pesan utama yang ingin disampaikan melalui cerita Jaratkaru ini adalah pentingnya kesadaran akan tanggung jawab sebagai generasi penerus, baik terhadap leluhur maupun terhadap lingkungan hidup. “Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang menjadi tanggung jawab kita bersama, termasuk menjaga alam dan ekosistem yang semakin rentan,” tambah Leonk. Melalui pertunjukan ini, Kawiya Bali ingin mengingatkan bahwa setiap individu memiliki kewajiban moral terhadap keberlangsungan kehidupan di masa depan.
Pementasan Jaratkaru pun menjadi bukti bahwa seni pertunjukan mampu menghadirkan dialog antara masa lalu dan masa kini secara relevan dan bermakna. Lebih dari sekadar tontonan, karya ini mengajak penonton untuk merefleksikan kembali berbagai tanggung jawab yang melekat dalam kehidupan sebagai bagian dari masyarakat. Ke depan, diharapkan ruang-ruang kreatif seperti ini dapat terus tumbuh dan menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan gagasan, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis. (gan/iok/cha)

