“Semua orang berpotensi untuk berprestasi,” pesan Nengah Muliarta saat diwawancarai di sela-sela praktik penyiar radio, selasa (16/24)
Radio Komunitas Voice of Trisma (VOT) oleh Madyapadma Journalistic Park kembali menggelar acara Pelatihan Penyiaran Radio dan KBRF (Kantor Berita Radio Feature) pada Senin, 16 Desember 2024. Acara ini menghadirkan dua sesi utama dengan narasumber yang berpengalaman.
Pada sesi pertama, Ni Putu Hana Serena Yenita dan Kadek Renara Yenustisya Arnawa, anggota aktif Voice of Trisma, memberikan materi mengenai sejarah dan proses terbentuknya Voice of Trisma (VOT) dan KBRF. Mereka menjelaskan bahwa VOT berdiri sebagai media komunitas yang bertujuan untuk menjadi wadah kreatifitas pelajar SMA Negeri 3 Denpasar dalam dunia penyiaran. KBRF sendiri merupakan inovasi terbaru yang dirancang untuk melatih anggota dalam menyusun feature radio yang informatif dan menarik.
Pada sesi kedua, Nengah Muliarta, akademisi dari Universitas Warmadewa sekaligus mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali periode 2014-2017, memberikan materi mendalam tentang teknik-teknik dasar penyiaran. Muliarta menekankan bahwa seorang penyiar radio tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi seorang storyteller yang mampu menarik perhatian pendengar dengan public speaking yang efektif..
“Menjadi seorang penyiar radio itu adalah kita belajar storytelling,” jelas Nengah Muliarta. Menurutnya, seorang penyiar tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga melatih kemampuan bercerita dengan metode storytelling yang menarik, serta public speaking yang baik agar pesan dapat tersampaikan dengan jelas dan menarik perhatian pendengar. Muliarta menjelaskan bahwa teknik dasar penyiaran mencakup beberapa hal penting, seperti intonasi suara, kejelasan pelafalan, tempo berbicara, dan ekspresi vokal yang mampu membangun suasana dalam siaran.
Dalam sesi praktik, para peserta pelatihan diberi kesempatan untuk mencoba teknik penyiaran langsung di hadapan mentor. Mereka berlatih membaca naskah siaran, memperbaiki intonasi, serta berinteraksi dengan pendengar melalui simulasi siaran radio. Muliarta memberikan masukan agar peserta mampu tampil lebih percaya diri dan profesional. Ia juga membahas mengenai pentingnya riset dan verifikasi informasi sebelum disiarkan. Menurutnya, seorang penyiar harus memiliki tanggung jawab terhadap kebenaran informasi pada naskah yang disampaikan agar tidak menyesatkan pendengar atau menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi.
Di sela-sela praktik, Nengah Muliarta memiliki harapan agar para peserta yang merupakan generasi Z saat ini tidak mudah percaya dan mudah bosan dengan ilmu yang mereka dapatkan. “Generasi Z ini bisa disebut generasi stroberi, ketika mereka sudah berwarna merah, maka akan cepat busuk, cepat menyerah,” ungkap Muliarta. Baginya hal tersebut merupakan sebuah tantangan yang harus dilawan oleh generasi saat ini. Ia juga berharap agar para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat untuk meningkatkan kualitas siaran mereka. Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi peserta untuk mengasah keterampilan mereka di dunia penyiaran radio. (nda)

