Saat ini, satu tim peneliti Madyapadma Journalistic Park – SMAN 3 Denpasar berlomba di lomba penelitian tingkat internasional, Kuala Lumpur Engineering Sains Fair (KLESF) di Malaysia. Kehadiran tim Madyapadma ini merupakan tim pertama di Bali yang mengikuti KLESF.
Tim Madyapadma terdiri dari Ni Made Risa Paramitha, I Dewa Ayu Anandhita Putri, I Ketut Arijuna Aryawangsa mempresentasikan penelitian mereka tentang Eksplorasi Potensi Ekstrak Limbah Daun Kamboja (Plumeria acuminata) Sebagai Bioavtur. “Kami memilih topik ini karena Indonesia masih mengimpor avtur untuk memenuhi keperluan mayoritas energi bahan bakar penerbangannya,” terang Risa Paramitha. “Selain itu karena di Bali banyak sampah daun Kamboja yang banyak ditanam hampir di setiap rumah, sekolah, perkantoran dan tempat pariwisata,” tambah Anandhita.
Kehadiran Tim Madyapadma dalam event KLESF merupakan proses kerjasama Madyapadma dengan Krya Global sebagai mitra KLESF. KLESF diikuti ratusan tim peserta dari kalangan peneliti muda, peneliti kampus, industri, start up dan lembaga pendanaan (foundation) dari berbagai negara seperti Malaysia, Indonesia, Kamboja, China, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Kazakhstan, Hongkong, Amerika, Jerman. KLESF berlangsung tanggal 7 – 11 November 2024 di Mines Resort City, Seri Kembangan, Selangor, Malaysia. Kegiatan KLESF terdiri dari pameran industri, pameran dan pitching start up, lembaga pendanaan, kompetisi penelitian, workshop, pemutaran film science dan berbagai kegiatan lainnya dari mitra penyelenggara baik di bidang riset, kesehatan, anak-anak, produk industri. Pada pameran industri dan start up ada di bidang cyber security, kesehatan, pangan, automotif, drone, energi, dan lainnya. Untuk pameran dan kompetisi terletak di bagian tengah convention hall. Adapun untuk workshop di bagian pinggir-pinggir convention hall terdiri dari workshop matematika, robotik, coding, STEM, sport science, kesehatan, pendidikan, permainan anak, permainan otak, dan lainnya. Bahkan asosiasi kanker nasional Malaysia membuka stand pameran sekaligus membuka pemberian vaksin HPV. Tak ketinggalan pameran dari Snakemaster dan Petting zoo yang menampilkan beberapa hewan terletak di bagian pojok convention hall yang tidak terlalu ramai sehingga tidak mengganggu sang hewan.
Sementara itu di balik keterlibatan tim Tim Madyapadma di , terdapat juga banyak rintangan yang perlu dilalui. “Kita baru H-1 pengujian ulang ke lab sebuah perusahaan energi di Karang asem,” ujar Arijuna. Hal tersebut harus di alami oleh Tim Madyapadma, dikarenakan perlu waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan sample sesuai kebutuhan pengujian. Tak hanya itu saja, tempat laboratorium yang perlu ditempuh dengan waktu cukup panjang dan juga padatnya jadwal dari pihak laboratorium, menjadi alasan waktu pengujian yang selalu tertunda.“Hal ini karena sesungguhnya penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya. Sehingga untuk memperkuat data pengujian kami, kami menguji ulang ke lab yang lebih representatif untuk uji bioavtur. Sebelumnya kamu hanya menguji di ruang penelitian Pradnja Paramita di sekolah kami,” tutur Risa.
Semua usaha ini menurut Anandhita bagian dari keinginan mereka menampilkan hasil yang terbaik. “Sehingga dapat membawa medali pulang sekaligus mengharumkan nama bangsa dan sekolah serta Madyapadma,” tegas Anandhita. Tidak hanya itu, Risa menambahkan,” keikutsertaan kami ini sekaligus sebagai bagian membangun jaringan dan promosi tentang rencana kami menyelenggarakan event serupa yang kedua kalinya yaitu BYIRE (Bali Youth International Research Exhibition) II pada bulan Juni 2025 nanti.” Adapun BYIRE yang pertama pernah diselenggarakan Madyapadma Journalistic Park-SMAN 3 Denpasar saat sebelum pandemi Covid-19 yang diikuti 11 negara dari benua Asia, Eropa dan Amerika. Sedangkan BYIRE kedua yang rencananya digelar tahun 2020 tertunda karena Pandemi Covid-19. “Jadi BYIRE II bulan Juni 2025 nanti merupakan melanjutkan BYIRE II yang sempat tertunda,” tegas Risa mengakhiri perbincangan (ita)

