Tak berhenti sampai pelatihan riset saja, Madyapadma kembali bergerak dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) demi memperoleh Peta Jalan Riset Remaja Bali 2030.
Di penghujung semester ganjil, tim Madyapadma gencar mencari solusi dengan mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) : Peta Jalan Riset Remaja Bali 2030. Kegiatan yang turut menjadi bagian dalam serangkaian Presslist 13 ini sukses terselenggara pada Jumat (16/12) dari pukul 11.00 - 16.30 WITA.
Walaupun dilakukan online via zoom, kegiatan ini berlangsung intens dan sesuai rencana. “Astungkara kegiatan ini berlangsung sesuai rencana, memang sih untuk topik ini banyak banget yang harus dibahas. Masalahnya ada di waktu yang kurang cukup. Mungkin kedepannya perlu buat diadain lagi kegiatan ini untuk melanjutkan diskusi kemarin,” ujar Putu Jyotira Dias (17), selaku moderator.
Bertujuan untuk mengarahkan riset - riset remaja Bali agar lebih terarah, FGD menggandeng 17 narasumber yang berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari remaja SMA, mahasiswa, hingga dosen yang berpengalaman di bidang riset. Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi, yakni IPA pada jam 11.00 - 13.30 WITA dan IPS di jam 14.00 - 16.30 WITA.
FGD berfokus dalam membuat target, tahapan, dan strategi yang memang penting untuk dibicarakan demi perkembangan riset di Bali. “Kegiatan ini baru permulaan, gak akan berhenti sampai sini karena tadi itu baru sebagian kecil untuk mencapai goals. Jadi kedepannya kita bakal diskusi bareng lagi secara bertahap,” ungkap Ni Made Galuh Cakrawati Dharma Wijaya (17), salah satu narasumber FGD saat diwawancarai tim Madyapadma di akhir kegiatan.
Dunia Riset memang cocok untuk dijadikan ladang mencari prestasi, tetapi bagaimana cara kita memberikan dampak yang nyata menjadi salah satu bahasan utama dari diskusi ini. Seperti kata salah satu narasumber yakni Dr. Drs. I Wayan Suanda, S.P., M.Si. “Bali memiliki taksu, itu bisa dikembangkan sebagai inspirasi penelitian”.
Setelah diskusi panjang, dihasilkannya gagasan GOAL 2030 : Membangun Ekosistem Riset Remaja Bali Yang Berdikari dan Berbasis Kearifan Lokal, sehingga sesuai dengan istilah think locally, act globally.
Permasalahan biaya menjadi bahasan utama yang sering disinggung oleh setiap narasumber. Terutama dalam penelitian SainTek membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena faktor penggunaan alat lab di luar sekolah. Tidak banyak sekolah di Bali yang mendukung siswanya seratus persen dalam melakukan penelitian dan pemerintah juga belum mendukung sepenuhnya kegiatan riset para remaja di Bali.
Learning Cycle menjadi solusi yang ditawarkan Wayan Sauri Peradhayana, S.Pd., M.Pd dalam kegiatan diskusi ini. “Kita butuh uang untuk meneliti, kita semua arahnya bisa mengarahkan ke enterpreneur. Bukan hanya menemukan sesuatu saja lalu diteliti dalam rangka perlombaan, tetapi kita dapat lisensi, menjual dan memproduksi hasil penelitian kita”. Pernyataan ini didukung oleh Ni Kadek Adnya Kusuma Sari (22) “Penting untuk memasukkan ilmu komersial sehingga kita dapat menambah dana untuk penelitian selanjutnya”.
Berakhirnya kegiatan Focus Group Discussion ini membawa dampak tersendiri bagi tiap narasumber. “Bener-bener nambah wawasan dan terasa banget tiap narasumber itu berkelas. mereka punya value nya sendiri sehingga pembicaraan kita ini jadi berbobot,” tutur Galuh Cakrawati. Focus Group Discussion menjadi bukti kepedulian Madyapadma terhadap dunia riset di bali. Meskipun baru lonjakan kecil, tetapi harapannya agar dapat menghasilkan dampak yang nyata. “Karena langkah kecil yang konsisten lebih baik, daripada langkah yang besar tetapi tidak konsisten ” pungkas I Made Kris Adi Astra, S.Si., M.Sc (27) Alumni Madyapadma 34 . (mp)

