Usai sudah cerita jelajah ini. Banyak hal yang berkesan untuk yang mengikuti dari awal hingga akhir.
Teriakan layaknya pemenang bergema dari bibir peserta Jelajah Sepeda Pesisir Bali sepanjang jalan WR. Supratman. Maklum, para pesepeda muda ini baru saja mengelilingi rute timur pulau Bali yang dimulai dari Singaraja, Tejakula, Tulamben, Candidasa, Serangan hingga kembali ke Denpasar. Puncaknya pada Senin (16/1) sekitar 60 orang mengayuh dari Serangan ke SMAN 3 Denpasar.
Ni Made Galuh Cakrawati Dharma Wijaya (12) terlihat kelelahan ketika sampai di depan gerbang sekolah yang lebih dikenal dengan nama TRISMA. Peluhnya menghujani pipinya yang legam karena terbakar matahari. "Sepedaan itu enak kok! Cuma ada beberapa kendala yang bikin kesel dan cukup mengganggu," tanpa ditanya, gadis berambut pendek ini menceritakan kesulitannya selama perjalanan. "Paling susah pas tanjakan, sulit untuk mengatur giginya sedangkan banyak tanjakan curam yang dilalui. Terus jujur saja anggota yang baru menyusul di etape terakhir karena kurang persiapan, banyak yang terkilir jadiharus menunggu yang di belakang."
Namun, senyumnya melengkung ke atas saat mengingat lagi hal - hal seru yang dialaminya. "Paling enak pas di jalan turunan, anginnya seger terus Galuh bisa belajar gimana caranya saling sabar dan peduli sama orang lain. Galuh takut kalau kita ga peduli sama yang dibelakang, yang didepan juga engga peduli sama Galuh."
Jelajah Sepeda Pesisir Bali diadakan sebagai kolaborasi dari Madyapadma Journalistic Park dan Forum Peneliti Muda TRISMA. Jelajah yang diadakan dari tanggal 12 hingga 16 Januari 2016 ini tak hanya mengandalkan tim pesepeda, tapi juga tim Media dan Riset. Mengambil benang merah Jejak Bahari Orang Bali, mereka berfokus untuk menelusuri peninggalan - peninggalan purba yang diyakini bahwa jati diri Orang bali adalah lautan.
"Sayang banget, hasil survey jauh dari ekspetasi dan rencana yang kita persiapkan. Kita bahkan lebih tahu dari hasil searching google. " keluh Surya Merta Yasa (16). Sambil merenung ia berkata, "Memang sih, kita membahas tentang sejarah sebelum peradaban Orang Bali. Tapi, kita justru tidak bisa membuktikan fakta yang ada di internet. Semua masih mengambang, belum ketemu benang merahnya."
Kendati begitu, cowok tambun ini masih penasaran tentang jati diri Orang Bali. "Rasanya kayak main puzzle, pecahannya masih terpotong - potong. Mungkin saya akan mencoba wawancara lebih dalam arkeolog atau sejarawan yang mumpun," Sembari tersenyum misterius ia berkata, "Orang Bali masih belum tahu mereka adalah anak pesisir, dan saya yang akan menyadarkannya." (ima)