“Byurrr..” Astaga! Cok Istri Putri Krisna Widnyani (16) sontak terkejut. Tembok, lantai, kaca, semuanya bergetar. Wajar saja, deburan ombak ganas menghantam sempadan villa yang ia tempati, Sabtu (14/01).
Kurang lebih pukul 02.00 Wita, Cok Putri terbangun dari tidur nyenyaknya. Padahal, baru 1 jam sebelumnya dirinya dapat merasakan nikmatnya fasilitas salah satu villa di kawasan Candidasa tersebut. “Serem banget! Ngapain dia bikin villa deket pantai gitu,” akunya. Alhasil, “aku harus pikir-pikir dulu kalau mau tempati villa itu. Harus liat cuaca dan tinggi gelombang juga.”
Pengalaman Cok Putri hanya menjadi secuil curahan para wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata Candidasa, Karangasem. Sebuah daerah wisata yang telah berkembang sejak tahun 1990-an. “Daya tarik utama di Candidasa adalah panorama pantai, dalam laut ataupun budaya masyarakatnya,” papar Teguh Subagia (42), Anggota Polisi Air Sub Sektor Candidasa.
Bertugas sebagai polisi air, Teguh bertugas untuk melayani masyarakat, baik itu terkait dengan aktivitas masyarakat di laut, kecelakaan laka laut, dan pengawasan terkait biota dan sumber daya lautan. “Kalau ada yang melanggar, akan kita berikan sanksi sesuai hukum,” tambahnya.
Seiring perjalanan Candidasa menjadi daerah wisata, mengakibatkan pertumbuhan villa kian tidak terkendali. “Di Candidasa ini sendiri kira-kira ada 88 villa dan mayoritas dimiliki oleh orang asing. Kalau pekerjanya baru dari orang lokal,” ucap Teguh. Penginapan Cok Putri di atas justru mengambil bibir pantai untuk dijadikan sempadan villa. Padahal menurut RTRWP Bali, letak bangunan adalah minimal 150 meter dari bibir pantai. Sementara penindakan terkait pelanggaran pembangunan sempadan villa tidak dapat dilakukan, sebab regulasi yang mengatur justru berumur lebih muda dari bangunannya.
“Sering kali wisatawan mengeluhkan, mana pantainya? Dimana saya bisa berjemur?” beber Teguh. Hampir seluruh permukaan pantai Candidasa telah tertutup beton. Selain beton, ada juga batu-batu kali besar disana. Tidak ada yang menyuguhkan pelayanan prima terkait kebutuhan wisatawan, seperti tempat berjemur ataupun memikirkan bagaimana mengkondisikan kenyamanan wisatawan sebaik mungkin.
“Ya memang Candidasa gak punya ciri khas, cuma mengandalkan pantai-pantai. Apalagi kalau sekarang sudah gak ada pantai yang bagus lagi. Wisatawan justru akan beralih ke daerah lain seperti Amed, Tulamben, dan lainnya,” jelas Teguh. Sebab, masyarakat Candidasa dahulu kerap melakukan tindakan pengrusakan terumbu karang untuk digunakan kembali menjadi kapur. “Karena mereka pada masa lalu, tidak tahu bahwa tindakan mereka mengambil karang, justru merusak lingkungan. Saya yakin, kalau mereka tahu, mereka tidak akan berbuat demikian.”
Edukasi sepertinya sangat dibutuhkan kali ini. “Kami belum mengadakan sosialisasi. Karena seharusnya, rencana edukasi ini harus dibicarakan dengan Pemda,” terangnya. Maka dari itu, gebrakan dari pemerintah sangat diharapkan. “Kalau untuk masyarakatnya sendiri sih seharusnya mau,” pikir Teguh. (smy)
“Byurrr..” Astaga! Cok Istri Putri Krisna Widnyani (16) sontak terkejut. Tembok, lantai, kaca, semuanya bergetar. Wajar saja, deburan ombak ganas menghantam sempadan villa yang ia tempati, Sabtu (14/01). Kurang lebih pukul 02.00 Wita, Cok Putri terbangun dari tidur nyenyaknya. Padahal, baru 1 jam sebelumnya dirinya dapat merasakan nikmatnya fasilitas salah satu villa di kawasan Candidasa tersebut. “Serem banget! Ngapain dia bikin villa deket pantai gitu,” akunya. Alhasil, “aku harus pikir-pikir dulu kalau mau tempati villa itu. Harus liat cuaca dan tinggi gelombang juga.”Pengalaman Cok Putri hanya menjadi secuil curahan para wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata Candidasa, Karangasem. Sebuah daerah wisata yang telah berkembang sejak tahun 1990-an. “Daya tarik utama di Candidasa adalah panorama pantai, dalam laut ataupun budaya masyarakatnya,” papar Teguh Subagia (42), Anggota Polisi Air Sub Sektor Candidasa. Bertugas sebagai polisi air, Teguh bertugas untuk melayani masyarakat, baik itu terkait dengan aktivitas masyarakat di laut, kecelakaan laka laut, dan pengawasan terkait biota dan sumber daya lautan. “Kalau ada yang melanggar, akan kita berikan sanksi sesuai hukum,” tambahnya.Seiring perjalanan Candidasa menjadi daerah wisata, mengakibatkan pertumbuhan villa kian tidak terkendali. “Di Candidasa ini sendiri kira-kira ada 88 villa dan mayoritas dimiliki oleh orang asing. Kalau pekerjanya baru dari orang lokal,” ucap Teguh. Penginapan Cok Putri di atas justru mengambil bibir pantai untuk dijadikan sempadan villa. Padahal menurut RTRWP Bali, letak bangunan adalah minimal 150 meter dari bibir pantai. Sementara penindakan terkait pelanggaran pembangunan sempadan villa tidak dapat dilakukan, sebab regulasi yang mengatur justru berumur lebih muda dari bangunannya.“Sering kali wisatawan mengeluhkan, mana pantainya? Dimana saya bisa berjemur?” beber Teguh. Hampir seluruh permukaan pantai Candidasa telah tertutup beton. Selain beton, ada juga batu-batu kali besar disana. Tidak ada yang menyuguhkan pelayanan prima terkait kebutuhan wisatawan, seperti tempat berjemur ataupun memikirkan bagaimana mengkondisikan kenyamanan wisatawan sebaik mungkin. “Ya memang Candidasa gak punya ciri khas, cuma mengandalkan pantai-pantai. Apalagi kalau sekarang sudah gak ada pantai yang bagus lagi. Wisatawan justru akan beralih ke daerah lain seperti Amed, Tulamben, dan lainnya,” jelas Teguh. Sebab, masyarakat Candidasa dahulu kerap melakukan tindakan pengrusakan terumbu karang untuk digunakan kembali menjadi kapur. “Karena mereka pada masa lalu, tidak tahu bahwa tindakan mereka mengambil karang, justru merusak lingkungan. Saya yakin, kalau mereka tahu, mereka tidak akan berbuat demikian.”Edukasi sepertinya sangat dibutuhkan kali ini. “Kami belum mengadakan sosialisasi. Karena seharusnya, rencana edukasi ini harus dibicarakan dengan Pemda,” terangnya. Maka dari itu, gebrakan dari pemerintah sangat diharapkan. “Kalau untuk masyarakatnya sendiri sih seharusnya mau,” pikir Teguh. (smy)