Ketut Suarjana (65) nampak termangu sedari tadi di bale depan warungnya. “Yah karena ada virus CVPD itu, saya tidak bisa menanam jeruk lagi,” ujar pria yang pernah menjadi petani jeruk Tejakula itu, Jumat (13/01).
Dirinya adalah bukti nyata bagaimana nasib para petani jeruk Tejakula sekarang ini. “Ada yang buka usaha seperti saya, ada yang jadi buruh, ada yang jadi nelayan, ada juga yang merantau,” Tutur Suarjana. Di lain tempat, Wayan Werke (79) juga memiliki nasib yang sama. “Saya ya gini sekarang, punya ternak, melihara ayam, sama bebek juga,” aku-nya. Suarjana dan Reke merupakan beberapa dari petani-petani jeruk Tejakula, Singaraja. Memang, di daerah itu terkenal sebagai penghasil jeruknya. “Jeruk disini lebih manis bahkan dari jeruk Kintamani,” ucap Reke.
Sudah dikenal meluasnya jeruk Tejakula pun diakui oleh Surya Merta Yasa dan Siti Nurmala Sari yang merupakan salah satu peserta jelajah sepeda pesisir Bali. “Aku pengen banget nyobain jeruk Tejakula,” ungkap Surya. “Aku juga, soalnya banyak yang bilang itu enak,” timpal Siti.
Namun gaung Jeruk Tejakula kini kian tak terdengar. “Jeruk Tejakula memang berjaya sampai tahun 1970 saja, lebih dari tahun itu, semua penghasilan kosong lompong,” Ujar Werke. Ia kemudian menjelaskan bahwa virus CVPD (Citrus Vein Phloem Degenarition)-lah yang menjadi penyebab matinya jeruk Tejakula. “Virus ini menyerang dari daun lalu berlanjut ke buah dan kemudian menjadi seluruh bagian pohon, semua bagiannya menjadi kecil dan mengerut serta kekuningan,” jelas Werke.
Namun bukan berarti para petani jeruk Tejakula tidak melakukan usaha untuk mengembalikan jeruk Tejakula agar dapat ditanami kembali. “Kami pernah mencoba untuk menanam kembali Jeruk Tejakula disini, tapi kurang dari setahun sudah terserang virus lagi,” ungkap Suarjana. Tempat yang sudah dijangkiti oleh virus CVPD memang sulit untuk dihilangkan dalam waktu yang sekejab. “Virusnya sudah lama berdiam disini, tapi mau nanam lagi sekarang tetap aja terkena virus,” tutur Suarjana.
Hal ini yang tak kunjung memberikan kabar menggembirakan untuk petani jeruk tejakula. “Padahal kalo dulu punya kebun 1 hektar are, sekali panennya bisa dapet keuntungan sampai 20 Juta,” ungkap Merke. “Tapi sekarang hasilnya benar-benar gaada, hahaha,” lanjut Suarjana sedikit tertawa Merke. Kebun Merke pun hampir terbengkalai. Untung dirinya masih menanam beberapa pohon pisang dan mangga sebagai ganti jeruk. “Tapi hasilnya tidak memuaskan,” ucap Merke.
Jeruk Tejakula begitu dirindukan, bahkan oleh para petaninya sendii. “Ya kami disini sangat ingin jeruk Tejakula agar dapat ditanam kembali dan orang orang yang merantau bisa kembali serta mulai menanam jeruk lagi,” ucap Merke berpesan. Jeruk Tejakula kian dielu-elukan, para petani Jeruk Tejakula berada dalam lingkaran lara. Jeruk oh Jeruk, pelipur Lara yang tak kunjung datang. (gsw)