
“I don’t care,” tulisan cukup besar melekat pada kulit sawo matang Wayan Budana (48). Bukan bermaksud mengacuhkan, tetapi segalanya telah tergambar jelas lewat tatto tersebut.
Terduduk di sebuah warung kecil pinggir pantai, Budana melepas penat seusai melaut, Jumat (13/01). Sesekali, dirinya menunjukkan beberapa rumah-rumah produksi garam khas Desa Les, Tejakula, Buleleng. “Petaninya sedang pulang, karena sekarang memang bukan musim untuk buat garam,” tandasnya. Musim hujan tak cocok untuk memproduksi garam. Alhasil, petani mencari jalan ‘lain’, baik dengan berkebun atau mencari ikan di laut.
Kebetulan, Budana sendiri kini tengah bekerja sebagai nelayan, tak menjadi petani garam. Padahal, leluhurnya dahulu sudah mewariskan profesi itu turun-temurun. Sebab, “Jadi nelayan jauh lebih untung, karena sudah dapat hasil dalam satu hari. Kalau jadi petani, seminggu sekali baru dapat hasilnya.” Dirinya menggantungkan nasib pada sumber daya ikan tongkol sebagai komoditas utamanya.
Namun, bukan berarti Budana lekas melupakan ‘budaya’ leluhurnya. Bekal ilmu ‘produksi garam’ masa lalu, masih tersimpan dalam memori. Salah satunya yang dikenalkannya adalah sebuah alat dari batang pohon kelapa, bernama Palungan. “Ini untuk mengkristalkan garam. Ini yang membuat produksi garam jadi lebih lama, bisa sampai 7 hari. Kalau pakai terpal cuma 5 hari,” paparnya.
Palungan membuat kristal garam menjadi lebih kecil dan halus, bahkan hampir serupa dengan ukuran butiran pasir. Berbeda, dengan ukuran garam yang lebih besar dari pulau Jawa. “Ini juga jadi salah satu keunggulan garam Tejakula dari garam Jawa,” sambungnya. Konon, “Rasa garam disini juga lebih gurih daripada garam lainnya di Bali.”
Kemudian, pemasaran garam difokuskan pada 3 daerah, yaitu Seririt, Singaraja, dan Denpasar. “Darisana, baru dikemas baru lagi jadi kecil-kecil.” Tak tanggung-tanggung, satu petani garam dapat memasarkan sampai 200 kg dalam sekali jalan. Tambah lagi, eksistensi garam Tejakula makin meroket sejak dinobatkan sebagai warisan dunia.
Sayang, pesona itu tak cukup menarik minat generasi baru untuk ikut memproduksi garam. Proses yang lama, pekerjaan bersifat musiman, dan munculnya profesi-profesi baru yang lebih menguntungkan menjadi penyebabnya. “Bisa juga, lahan sawah garam dikontrak untuk buat bungalow, tapi harus ijin dulu sama desa,” tambah Budana. Tetapi tetap saja, hilir keputusan tetap berada pada petani itu sendiri.
Ni Nyoman Maylina Triastuti (16) menganggap, “Aku yang dari tejakula sih sebenarnya kasihan sama mereka, karena pekerjaan mereka tergantung oleh banyak hal seperti musim, dan lain sebagainya.” Namun tetap saja, “warisan dunia tetap harus dilestarikan,” harap Maylina. (smy)