
Yang terbayang, takkan selalu terjadi. Yang terjadi, tak selalu terbayangkan. “Hari ini kejutan banget bangiku,” seru Ima Gita Elhasni (17), sembari membantu teman-temannya menenteng perkakas hari ini.
“Anak-anaknya lucu bangett, seneng aku ngajak mereka main-main dan bagi-bagi hadiah. Semuanya pada semangatt,” umbar Ima pada teman-temannya, di lobby penginapan Pondok Indah, Tulamben, sepulang perjalanan hari ini, Jumat, (13/01). Pukul 10.00 WITA tadi, Ima bersama rombongan bakti sosial meluncur dari penginapan daerah Tejakula, ke SD Negeri 1 Baturinggit. Nyanyian, mainan, dan candaan mereka bagikan disana bersama siswi kelas 3-6 SD. “Awalnya aku kira bakalan krik, soalnya ekspektasiku anak SD jaman sekarang udah pada dewasa dan nggak tertarik sama game kita. Tapi ternyata, wah, mereka antusias banget.”
Sayang, “Wawancara hari ini nggak sesuai harapan. Soalnya ada beberapa narasumber yang udah nggak ada di lokasi pas kita dateng,” cerita Ni Nyoman Maylina Triastuti (16), tim media bagian kantor berita radio feature. Tim media hari ini memburu informasi di daerah Baturinggit, Desa Julah, Desa Les, pesisiran pantai Tejakuala, dan Tulamben.
Giliran I Gusti Ngurah Kusadhara Prema Dyotavaro (16), dari tim pesepeda yang bercerita, “Medan hari ini lumayan sih. Banyak tanjakan. Belum lagi panas. Kalau kemarin kan sempet mendung. Jadi hari ini tenaganya lebih kerasa terkuras.” Dengan itu, Dyotavaro tak ikut melanjutkan perjalanan beberapa tim pesepeda ke Pura Manik Kembar. Melainkan memilih beristirahat dan merendam diri sejenak di bawah matahari pukul 4 sore.
Pesepeda lain melanjutkan perjalanan 5 kilometer ke Pura Manik Kembar. Pemandangan laut berpadu batu karang memanjakan mata mereka disana. Begitupun, sebagai umat Tuhan, puji syukur dipanjatkan di rumah Tuhan disana. “Mebanten sama sembahyang disini, berterima kasih dan memohon keselamatan untuk perjalanan selanjutnya,” kata Jezzica Jasmine (17), koordinator tim akomodasi dan acara. (nan)