Karya: I Gusti Ayu Agung Citra Perama Devhi
Sudah 15 menit aku mengibas-ngibaskan buku ke area wajahku. Namun tetap saja, laju keringat tak dapat aku hentikan. Entah apa yang membuat cuaca begitu panas hari ini. Padahal, matahari belum sampai di titik tertingginya. Aku seolah sedang merasakan simulasi api neraka. Ku putuskan untuk berteduh di bawah pohon besar di halaman belakang rumah. Sekadar mencari angin untuk mengurangi gerahku.
Berteduh di bawah pohon dan mengibas-ngibaskan buku ataupun koran bekas adalah ‘tradisi’ keluargaku untuk bertahan hidup dari teriknya matahari. Maklum, kami tak memiliki mesin pendingin ruangan. Ayahku hanya seorang buruh bangunan. Upahnya cukup untuk membiayai sekolahku saja aku sudah bersyukur. Sedangkan ibuku, hanya tukang cuci panggilan. Pendapatannya tak tentu, bergantung pada panggilan tetangga sekitar. Melihat kondisi ekonomi keluargaku, aku tak sampai hati untuk menambah beban mereka dengan membelikan mesin pendingin ruangan.
Bersandar di bawah pohon ditemani tenangnya aliran sungai belakang rumah sudah cukup menyenangkan bagi remaja kampung sepertiku. Airnya begitu jernih, tapi anak-anak kampung seusiaku tak ada yang berani untuk bermain di sini. Mereka semua termakan omongan orang tua. Sungai ini menyimpan misteri, katanya. Namun aku tak percaya, itu hanya takhayul. Buktinya, selama 12 tahun aku hidup, aku tak pernah menemukan hal janggal apapun.
“Hai, Raya!” seorang gadis sepantaranku tiba-tiba menyembul dari semak belukar pinggir sungai. Wajahnya cukup asing, tak pernah aku lihat sebelumnya. Tapi, kenapa dia bisa tahu namaku?
“Maaf membuatmu kaget. Aku Syahna, anak kampung sebelah,” ujarnya tiba-tiba. Syahna? Kampung sebelah? Otakku terus mencerna perkataannya. Setahuku kampung sebelah tak memiliki bocah bernama Syahna. Ah, mungkin main ku yang kurang jauh. Sampai-sampai tak tahu bahwa ada gadis cantik berkulit putih bernama Syahna.
“Wah, berani juga ya anak ini,” pikirku dalam hati. Pasalnya, dia orang pertama yang pernah aku temui berani melintas sepanjang aliran sungai ini. Tapi aku senang. Ternyata tak semua anak termakan mitos dari orang tua mereka.
“Main yuk!”. Syahna kembali membuka suara, setelah perkenalannya tadi tak mendapat balasan dariku.
“Kemana?” tanyaku datar. Bukannya cuek, aku hanya sedang sibuk terpukau dengan parasnya. Sangat tak menunjukkan wajah anak kampung. Apakah Syahna turun dari kahyangan?
“Ke kampungku,” jawabnya seraya menunjukkan arah timpat tinggalnya.
Tunggu. Telunjuknya mengarah pada arah yang berlawanan dengan kampung yang aku tahu. Bukankah arah tersebut hanya hutan kecil?
“Ada desaku kok di sana. Ada setapak kecil untuk sampai ke sana. Memang, desaku agak tertinggal dan jauh dari hiruk pikuk perkampungan,” lanjut Syahna, seolah menjawab pertanyaan dalam benakku.
Aku mengangguk, tanda setuju dengan ajakannya. Kami berjalan beriringan sambil bernyanyi ria menyusuri jalan setapak. Benar saja, ada sebuah desa di ujung sana. Kehidupannya jauh lebih sederhana dibandingkan kampungku. Rumah kayu, api unggun, dan tak terjamah listrik. Pantas saja aku tak tahu bahwa ada kehidupan di sini.
“Ini dia tempat tinggalku. Selamat datang, Raya,” sambutnya hangat. Selepas Syahna melontarkan sambutan itu, seluruh tatapan warga tertuju padaku. Semua tersenyum ramah, dalam waktu yang bersamaan. Kompak sekali. Syahna seolah ratu di desanya, pikirku.
Syahna mengajakku berkeliling melihat aktivitas warga desa. Ada yang mencari kayu bakar, memikul keranjang berisi sayuran segar, juga bersenda gurau sembari mencuci pakaian di sungai. Tak jauh berbeda dengan aktivitas warga desaku. Namun yang berbeda, ialah keharmonisannya.
Sekitar satu jam berkeliling, kami singgah sejenak di sebuah gubuk kayu untuk melepas penat. Syahna mengeluarkan makanan dari tas anyaman yang bertengger di lengan kanannya.
“Dimakan dulu,” tawarnya ramah.
Aku tak tahu itu makanan jenis apa. Nampak seperti dedaunan kering yang diaduk bersama ranting. Namun terlihat menggugah selera. Mungkin itu makanan khas desa sana. Tak ada salahnya untuk mencoba, bukan?
“Aku tinggal dulu ya,” Syahna tiba-tiba berpamitan, kala aku hendak menyicip sepotong hidangannya. Aku hanya dapat mematung, melihat punggung Syahna gesit sekali menghilang dari pandanganku.
Aku semakin kebingungan. Ada apa dengannya? Kami bahkan belum mencicipi makanan yang ia bawa. Apakah Syahna kebelet buang air?
“Tapi makanan yang ia bawa begitu menggiurkan. Apa harus ku coba segigit saja?” gumamku sendiri.
“JANGAN DIMAKAN!” tegas lelaki tua bertelanjang dada yang tengah melintas memikul kayu bakar. Nadanya setengah berteriak. Dengan penekanan kalimat yang begitu kentara.
Aku terperanjat mendengarnya. Sepotong hidangan yang siap aku lahap seketika terpental entah kemana. Ku perhatikan, bola mata kakek tersebut kian memerah. Seolah marah, tak suka akan keberadaanku di desanya.
“Cepat pulang. Aku tak ingin kau hilang lebih lama,” ucapnya berat, seraya berjalan menjauh dari gubuk tempat peristirahatanku.
Apa maksud kakek itu? Siapa yang hilang? Ah, iya, aku sendiri yang ‘menghilang’ dari desaku semenjak satu jam yang lalu. Aku harus kembali, sebelum mama melayangkan sapu padaku yang tak kunjung berada di rumah.
Tapi, mengapa aku mendengar bunyi-bunyian yang keras dari arah desaku? Bunyi gamelan, kentongan, dan teriakan warga desa yang saling bersahutan.
“RAYAAA! RAYAAA! KAMU DIMANAAA!” Teriakan itu terdengar begitu jelas milik Pak RT.
Aku semakin bingung, ada apa dengan warga desa? Aku hanya berjalan-jalan ke desa seberang barang satu jam. Kenapa sampai Pak RT yang mesti turun tangan? Perjalanan menyusuri setapak terus aku lakukan sendiri, tanpa Syahna. Gadis itu tak aku temukan lagi semenjak ia pamit begitu saja.
“Rayaaa, anakkuuu. Akhirnya kamu pulang nak.. Mama udah dua hari nyariin kamu, kamu kemana aja?” ucap mama di tengah isak tangisnya sembari memeluk erat tubuhku. Bersamaan dengan itu, warga sontak mengerumuni kami. Menyisakan aku dan mama di tengah-tengah lingkaran yang mereka buat.
Pikiranku terus berkecamuk. Bagaimana bisa warga mencariku dua hari, sedangkan aku hanya pergi satu jam saja. Dan saat aku menceritakan tentang desa milik Syahna, tatapan warga desa sontak membelalak. “Kamu gak makan apa-apa kan dari sana?” tanya warga lainnya, khawatir. Aku menggeleng.
“Untung saja. Kalau kamu makan itu, sukma mu kemungkinan besar tertahan di sana”. Deg! Sebenarnya, desa apa itu?
Sudah berselang dua hari semenjak tragedi menghilangnya diriku. Namun yang tak kunjung hilang, ialah berbagai pertanyaan menggantung yang terus menari dalam pikiranku. Siapa Syahna? Kemana hilangnya dia? Dan kehidupan warga desa seberang, nyatakah mereka? Ah, aku tak mengerti. Semua begitu janggal.

