Ketenangan tercemar berbagai kepentingan.
Ekspektasi melambung tinggi,
Berkompetisi untuk saling diakui.
Keinginan untuk tak terkalahkan,
Semakin menjadi patokan.
Musuh dalam selimut, menjadi ironi.
Awalnya menyayangi, kini saling mencaci maki.
Harapan perlahan lapuk oleh zaman,
Fakta pahit mulai meruntuh angan.
Ambisi jiwa-jiwa angkuh, akhirnya berserah.
Entah karena kalah, atau lelah.
Dalam hiruk pikuk yang ku temukan,
sisa ketengangan sulit diselamatkan.
Sampai kapan?
Aku layak diapresiasi karena bertahan.
Oleh: Ni Luh Nitya Sawitri

