Oleh : Ni Wayan Kusuma Putri
Siapa yang kuat dan mampu bertahan hidup dialah yang akan menjadi pemenang. Begitulah hukum rimba yang berlaku. Ada saatnya kita harus mensyukuri kehidupan yang kita jalani sebelum ajal menjemput. Aku tidah tahu seperti apa kematian yang akan menghampiriku. Membayangkan bagaimana kondisiku di detik-detik terakhir karena di saat seperti ini aku berada di antara hidup dan mati. Tidak ada kedamaian yang ada justru kekerasan fisik di mana-mana. Aliran darah dari ujung kepala hingga bawah benar-benar menyelimuti tanah ini. Akankah ini berakhir?
Membunuh atau dibunuh.. Huh! Ketika aku mendengar dua kata itu, aku tidak bisa membayangkan betapa kejamnya menjadi salah satu bagian dari tanah ini. Semua orang berlomba-lomba menjadi pembunuh demi mendapat kekuasaan. Sayatan pedang menghiasi setiap bagian tubuh. Di mata mereka hanya dipenuhi dengan darah. Hati mereka tertutup tak merasakan bagaimana penderitaan dibalik ini.
Aku mengambil pisau dari saku celanaku, tak ada pilihan lain aku harus bertarung menggunakan pisau ini. Tak terbesit di otakku jika aku akan menggunakan cara ini untuk bertahan diri. Beruntunglah diriku belajar menggunakan pisau ketika aku masih remaja demi menjaga keselamatan dalam keadaan darurat. Namun apakah aku mampu menjadi pembunuh? Apa aku rela jika aku dibunuh? Kabar kematian teman-temanku sudah sampai ke dalam telingaku. Kini aku sendiri, keluarga dan teman-temanku sudah berada meninggalkan diriku.
Aku membuka pintu dan berjalan berhati-hati, pandanganku meperhatikan setiap inci keadaan.
"Zoe!" Seseorang memanggilku dari belakang, reflek aku mengacungkan pisau ke arah dirinya.
"Wow.. santay aku kemari tidak berniat membunuhmu kawan," ucapnya sambil tersenyum.
Aku tidak sebodoh itu, kedatangannya pasti ada maksud tertentu.
"Katakan apa yang kau mau?" kali ini aku memegang erat pisauku dan berjaga-jaga jika dia menyerangku secara tiba-tiba.
"Kawan aku hanya menyampaikan bahwa sebentar lagi kau akan bertarung dengan Xafar. Jika kau menang kaulah yang akan jadi penguasa disini, namun jika kau kalah maka nyawamu yang akan dipertaruhkan."
Setelah mengucapkan itu, dia pergi begitu saja. Penguasa? Apa maksudnya? Apa mungkin semua orang disini sudah mati dan hanya menyisakan aku dan Xafar. Aku tertawa cukup kencang, menertawai betapa kejamnya tanah ini. Tak ada pilihan lain selain melawan dirinya. Aku tidak akan membiarkan diriku mati konyol karena dia. Aku datang menghampiri Xafar dan mengatakan bahwa aku ingin bertanding dengannya sekarang juga.
"Nyalimu sungguh besar juga anak muda, apa kau pernah mendengar berapa orang yang sudah aku bunuh? Aku sudah bunuh 99 orang, dan kali ini kau menjadi targetku yang ke-100," ujarnya. Aku tersenyum dan mengacungkan pisau ke arahnya. "Mari kita bertarung!"
Harus diakui aku cukup kewalahan menghadapi dirinya. Dia bertarung menggunakan pedang sedangkan aku menggunakan pisau. Jika aku terlalu memaksakan diriku maka aku yang akan kalah. Aku kembali tertawa untuk mendapat perhatian dirinya. Kali ini dia bertanya mengapa aku tertawa. Aku menjawab,
"Pedang lawan pisau, coba tebak siapa yang akan menang? Apa kau mau dicap sebagai penguasa yang pengecut?" Xafar yang mendengar itu tidak tinggal diam, dia menghempaskan pedangnya yang hampir memotong tangan kananku.
Ini kesempatan emasku, aku mendekat ke arahnya dan langsung menusuk dadanya tepat di arah jantungnya. Untuk terakhir kalinya aku mengucapkan kata "maaf" kepadanya. Ini harus aku lakukan demi bertahan hidup.

