Dahulu kala, di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung, hiduplah tiga orang yang bersahabat. Mereka adalah Bona, Didi, dan Jojo. Semua orang di desa tahu bahwa Didi dan Jojo adalah orang terpelajar dari desa mereka.
Menjadi murid dari salah satu perguruan yang bahkan anak desa lain tak bisa lakukan, membuat mereka begitu disegani di desa. Namun, hal ini berbeda dengan Bona yang harus banting tulang dan bekerja demi adik dan ibunya yang sakit- sakitan. Karena alasan ini juga lah Bona tak punya waktu dan kesempatan belajar seperti kedua kawannya.
Kini Didi dan Jojo sudah resmi lulus dari perguruan mereka. Kini ketiga orang sahabat yakni Didi, Jojo dan Bona duduk bersama di padang rumput.
“Hei kawan, bagaimana kalau kita mengembara dan mencari hal baru.” Kata Didi tiba-tiba memecah keheningan.
“Itu bukan ide yang buruk, kita telah menghabisakan beberapa tahun menimba ilmu dan kini saatnya kita mencari pengalaman dan keberuntungan di daerah lain.” Balas Jojo cepat.
“Kita berdua adalah orang terpelajar kita, kita bisa pergi kemana saja. Tapi, bagaimana dengan Bona? Apa Bona harus kita tinggal di desa?” Tanya Didi sambil menatap taya Jojo.
“Tidak!” Jawab Bona cepat.
“ Aku juga ingin pergi bersama kalian, kalian juga harus membawaku!” Ucap Bona.
Mau bagaimana pun, yang di katakan Bona adalah benar. Selain Bona adalah sahabat Didi dan Jojo, dengan Bona ikut berpetualangan bersama mereka, Bona secara tak langsung akan belajar dan mengenal bagaimana kehidupan di daerah lain.
Walau bona bukanlah anak terpelajar, Bona memiliki lebih bayak pengalaman hidup dari Didi dan Jojo, dan Bona tak akan pernah puas dengan segala pengalaman yang ia miliki sakarang. Bona mengangap semakin banyak pengalaman yang Ia punya semakin besar kemungkina ia bisa mengubah hidupnya dan keluarga.
Beberapa hari berlalu, mereka telah siap dan telah mengemasi barang- barang dan siap melakukan perjalaanan jauh. Tujuan mereka kali ini adalah lembah di desa sebrang yang katany banyak peninggalan kuno untuk diteliti.
“Lihat, apa yang berserakan itu ?” kata Didi
“Itu tumpkan tulang-tulang.” Sahut Bona cepat.
“Ayo ke sana dan kita lihat” Kata Jojo.
“Baiklah… ini kesempatan kita untuk memperlihatkan seberapa terpelajarnya kita.” Ucap Didi sombong dan dibalas anggukan oleh Jojo.
“Jangan! Ini sangat berbahaya. Apa kalian tidak lihat, ukuran tulang itu sangat besar dan tidak normal.” Cegah Bona cepat setelah ia mengamati tulang itu kembali.
“Kamu diam saja, kamu ga tau apa-apa. Aku dan Jojo adalah orang terpelajar dan aku tau tulang apa ini. ini tulang gajah!” balas Didi
“Tidak, Ini bukan tulang gajah aku perbah melihar tulang gajah saat berburu bersama tetua desa bulan tahun lalu dan tulang itu tak sebesar ini.” ucap Bona berusaha memberi penjelasan.
“Jadi kamu meragukanku? Aku ini lulusan perguruan, tidak seperti kamu yang hanya pengembala” Sahut Didi marah.
“Sudah- sudah tak perlu ribut. Aku tau begaimana menempatkan tulang-tulang ini sepeti semula dan menghidupkannya. Jadi Bona, kamu lebih baik diam saja. Kalau kamu takut, sajak awal sebaiknya kamu tidak ikut.” Ujar Jojo
“Apa?! Menghidupkannya? Tidak! kita tidak tahu tulang ini benar tulang gajah atau bukan. Sebaiknya kita jangan mengambil risiko yang membahayakan diri kita.” Balas Bona cepat
Ucapan Bona tidak dihiraukan oleh kedua sahabatnya. Didi dan Jojo masih asik dengan kegiatan mereka meyusun kembali tulang-tulang itu.
“Jangan! Jangan !” teriak Bona gemetar takut dan sedikit demi sedikit mulai mundur menjauh.
Ia mulai berfikir hawan apa yang punya tulang sebesar itu. Laki-laki itu memutar mata dan meliahat sekelilingnya. Bona kaget ketika sadar disekeliling mereka ternyata banyak abu dan abu itu tampak seperti abu di pemakaman.Bukan sampai disana, ia dikagetkan kembali ketika melihat sesuat yang ia pikir mirip gigi atau kuku hewan.
“Apa ini? ini seperti kuku atau gigi. Aku yakin itu bukan tulang gajah. Tunggu, di desa ini terkenal dengan legenda naga api kan? Itu pernah diceritakann kakek kepala desa, pak Ali si saudagar masyur juga pernah menyebutkan naga dari desa ini. Tidak! Bagaimana jika ini sungguh naga ? kita semua dalam bahaya” pikir Bona dalam lamunannya.
“Teman-teman jangan ! aku ingat jika ada legenda naga di desa ini, itu mungkin saja naga yang dimaksud.” Cegah Bona kembali
“HAHAHAHA…. Bona. Betapa bodohnya dirimu, taukah kau bahwa naga sudah punah puluhan tahun lalu. Bagaimana mungkin masih ada naga sekarang hahahaha” dua sekawan itu tertawa
“Iya bodoh sekali kau, jika takut lebih baik kau pergi saja sana. Kembali ke ketiak ibumu, ibumu pasti bangga hahaaha…. Sudah bodoh, penakut pula hahahaha...” ujar Jojo
Ini bukan saatnya untuk marah, Bona yakin dengan apa yang di ucapkannya tadi. Ia sudah lelah dengan kedua sahabatnya ini memilih untuk bersembunyi di dalam goa di dekat sana dan mengamati kedua temannya itu.
Jojo kini telah siap dengan mantra-mantra yang ia pelajari di perguruan untuk menghidupkan hewan ini kembali. Tulang-tulang itu mulai menyatu dan tiba-tiba…
“WHOARRRR…” suara geraman besar terdengar ditelinga mereka
Seekor naga api besar telah kembali dihidupkan!
“Tolong! Tolong!” teriak Didi dan Jojo.
Naga itu kelaparan setelah kembali dibangkitkan. Dengan cepat naga itu mencengkram Didi dan Jojo dengan cakar-cakar tajamnya. Mereka berdua dibawa terbang oleh naga itu kembali ke sarannya terdahulu.
Sarang naga yang terkenal tak ada seorang pun manusia atau penyihir yang bisa kesana, sebab sarang itu terletak di kawah gunung terbesar di benua ini dan tentu saja di kelilingi sungai lava panas disekitarnya.
Bona keluar dari tempat persemunyiannya dan menyaksikan teman-temnnya dibawa kabur oleh naga dengan sedih.
“Kawan-kawanku yang cerdik dan merasa mereka mengetahui segalanya. Mereka kehilangan nyawa, karena mereka kurang penetahuan umum yang bahkan bisa di dapat di kehidupan sehari-hari tanpa harus pergi ke perguruan.”

