Oleh : Ni Wayan Kusuma Putri
“Kurang ajar!” terdengar bentakan dari dalam kamar. Terlalu keras hingga menggema seisi rumah. Tak ada pun yang berani menjawab, diam adalah solusi saat ini. Pria tua berdiri dari tempat duduknya dengan kaki dihentakkan keras ke lantai. Tangan gemetar, wajah pucat dicampur keringat dingin dapat dirasakan oleh gadis beramput pirang ini. Dia menunduk hingga rambutnya hampir menutupi seluruh wajah polosnya.
“Tidak bisakah kau lihat bagaimana kondisi Eva! Dimana akal sehat yang selama ini kau tunjukkan kepada kita?” seorang laki-laki datang dan mendekat kearahnya. Di matanya sama sekali tidak ada rasa takut bahkan ia berani membentak balik pria tua yang sudah berdiri di hadapannya. Perasaan emosi sudah mulai menumpuk di dalam hati pria tua. Dia mengepal tangannya, berusaha menahan emosi yang hendak ia lampiaskan. “Apa begini cara bicaramu?” laki-laki itu hendak menjawab balik namun..
Brukkk..
Gadis itu tiba-tiba jatuh ke lantai, penglihatannya semakin lama semakin buram. Ingin rasanya ia berlari namun sadar situasi seperti ini tidak bisa dihindari. Pria tua itu justru diam dengan tatapan kosong, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Lantas laki-laki itu mendorongnya cukup kuat hingga terbentur tembok, dalam matanya sudah dikelilingi amarah. Tidak ada yang bisa meredakan amarahnya bahkan dirinya sendiri tidak bisa mengendalikan apa yang akan ia perbuat nantinya.
“T-Tidak, jangan kau lakukan itu Ray! Lihat Eva, dia harus segera dibawa ke rumah sakit.” Wanita yang sedari tadi diam menyaksikan kejadian ini akhirnya angkat bicara. Perkataan itu mampu membuat Ray berhenti, lalu menoleh dan tertawa cukup kencang. “Ahaha- sejak kapan anda mulai peduli dengan Eva? Berhenti menunjukkan wajah palsumu. Itu cukup membuatku muak!” Dia menatap sinis kedua sosok di depannya dan tanpa basa basi ia menggendong Eva ke dalam mobilnya.
“Eva.. Bertahanlah, kau tidak boleh meninggalku sendiri.” Mobil Ray melaju cukup kencang dan hanya butuh beberapa menit untuk sampai di rumah sakit. Para dokter segera menangani Eva yang saat itu kondisinya semakin memburuk. Ray yang berada di sana tidak berhenti mondar-mandir sana sini memikirkan tentang Eva.
Sejak kecil Eva selalu berlari menghampiri ruang kerja ayahnya untuk menunjukkan setiap hasil ujiannya. Namun sayangnya di mata ayahnya, Eva dianggap anak yang tak berguna. Memang diakui, Ray adalah siswa sekaligus anak yang paling cerdas. Karena itu Eva selalu dibanding-bandingkan dengan Ray. Bukannya sedih, Eva justru tak mau kalah dengan kakak laki-lakinya itu.
Ia membuka lembaran buku satu per satu dan mulai mengingatnya. Yang ia pikirkan hanya menjadi anak yang sempurna. Suatu saat nanti ia bermimpi mengalahkan kakaknya itu. Usaha keras yang ia paksakan justru membuat tubuhnya semakin melemah. Wajahnya mudah sekali pucat setiap dia kelelahan. Bukannya peduli justru ayahnya terus menekan Eva untuk menjadi anak berguna seperti Ray begitupun dengan ibunya yang selalu setuju akan perkataan dari suaminya itu.
Waktu terus bergerak, Eva sudah merasakan penglihatannya semakin gelap. Ia bahkan juga tidak bisa mendengar satu suara sekalipun. Semuanya dalam keadaan sunyi. Eva terus berusaha berjuang melawan kritis hidupnya namun sayangnya lagi-lagi ia gagal. Mungkin ini adalah akhir dari perjuangannya. Satu kata yang ia ucapkan hanya kata “Maaf”, maaf karena dia gagal menjadi anak yang sempurna dan tidak bisa seperti Ray.

