Oleh : Ni Wayan Kusuma Putri
Di bawah rintikan hujan yang tak begitu deras, kupandangi pemandangan luar yang bagus dari jendela. Sambil meringkup, aku memainkan handphone dengan hawa kedinginan. “Non, ini coklat hangat dan roti bakar,” bibi yang tiba tiba datang mengejutkanku.
Aku mengangguk dan segera mengambil coklat hangat yang berada di atas laci meja. Hangatnya seketika membaluri tubuh mungilku ini. Sungguh hujan yang sangat berarti bagiku. Karena ini salah satu hujan yang membuat sejuta makna bagiku. Aku mengingat bagaimana masa kecilku.
Masa kecilku di sebuah kampung yang banyak pepohonan dan rumah, banyak anak-anak yang seusiaku yang bermain di lapangan dekat sawah. Biasanya anak-anak berkumpul dan bermain setelah makan. Dan para orangtua pun terkadang ikut duduk di pinggiran lapangan sambil melihat anak-anak mereka bermain.
Aku, Vely suka menangis di hadapan teman-temanku yang lain. Setiap selesai bermain bersama akan terdengar tangisan sebagai penutup. Alhasil bukannya menenangkanku justru mereka semua malah mengejekku. Aku tertawa sekaligus malu jika mengingat moment itu lagi. Namun aku tersenyum karena di saat semua mengejekku ada satu anak yang sering datang menghiburku.
Ketika aku pertama kali bertemunya, aku mengira dia anak yang dingin dan cuek namun ternyata jauh berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Dia lembut bahkan aku sempat terheran mengapa di dunia ini ada laki-laki seperti dia. Setiap aku menangis, aku akan selalu bercerita kepadanya. Walaupun umurnya tergolong masih kecil, dia adalah pendengar yang baik. Aku baru merasakan kekagumanku kepadanya ketika aku beranjak dewasa.
Dia selalu tersenyum dan tidak pernah menangis di hadapanku dan teman-temanku. Dia benar-benar orang yang kuat. Namun semua itu berubah ketika ibunya meninggal. Saat itu aku juga merasakan kepedihan yang dialaminya. Namun semakin lama dia tidak lagi sama dengan orang yang aku kenal. Dia menjauh dan tidak peduli denganku lagi. Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tidak menghiburku lagi?
Beribu-ribu pertanyaan aku simpan di kepalaku. Yang hanya bisa aku lakukan yaitu berusaha mendekat namun akan selalu ada jarak yang memisahkan kami berdua. Aku mendekat namun dia menjauh. Teman-temanku juga merasakan hal yang sama denganku. Saat itu aku hanya berpikir bagaimana cara menghiburnya. Aku ingin membalas setiap perbuatan yang ia lakukan kepadaku.
Akan tetapi..
Tak lama kemudian, aku mendengar kabar bahwa dia pergi ke Jepang untuk selamanya. Aku terkejut dan kembali mengadu kepada kedua orang tuaku. Orang tuaku hanya bisa diam dan berusaha menenangkanku yang kembali menangis.
"Jika takdir memberiku waktu, aku harap kita bisa bertemu lagi wahai temanku."
"Maaf karena aku tidak bisa mengenali penderitaanmu dibalik wajah ceriamu itu." Terimakasih hujan, karenamu aku bisa mengingat satu hal berharga ini.

