Karya : Ni Wayan Kusuma Putri
Perempuan tua itu duduk termenung di atas kursi kayu kecil, menghela nafas lagi dan lagi. Terasa sudah kekhawatirannya yang kian menumpuk. Ini bukan kali pertamanya dia seperti itu. Ia menatap ke depan, daun-daun maple jatuh satu per satu menimati angin yang seolah-olah menyapanya. Burung-burung berkumpul dan berkicau secara bersamaan, sungguh iri rasanya melihat kebahagiaan itu.
Perempuan tua itu mendongak ke langit sambil mengucapkan beberapa kata. Bukan doa melainkan keluhan. Waktu terus berlalu tapi tidak ada satu pun yang berubah. Dia menyenderkan kembali punggungnya ke kursi dan menatap sayu di ujung jalan. Sepi seperti hidupnya, sunyi seperti perasaannya. Bahkan tak ada satu orang yang lewat disini. Kehampaan selalu menyelimutinya.
Tak ada kabar, tak ada pesan, tak ada telpon yang bisa ia dapatkan. Hidup disini seperti hidup di kota mati. Hatinya serasa dihantam kekecewaan yang mereka tinggalkan. "Kami akan kembali" Tidak! Lima? Tujuh? Sepuluh? Mau berapa tahun dirinya harus menunggu. Ah, barangkali mereka sibuk, dirinya tidak akan pernah tau kondisi mereka disana. Mereka pekerja keras dan tak kenal mundur.
Pagi, siang, dan malam perempuan tua ini akan setia menunggu, menatap langit sebagai saksi mata penantian yang selama ini tak kunjung juga. Mengingat kenangan akan kebersamaan dulu, canda tawa, dan suka duka. Betapa kenangan itu masih tertoreh jelas dalam pikirannya dan ketika pesawat itu meninggalkannya, saat itulah kesedihan menghampirinya tepat pesawat itu terbang di atasnya.
Pahit baru ia sadari, ada penyesalan mendalam di hatinya saat kenangan-kenangan itu muncul. Terlalu lama dirinya ada di dunia ini, dan kebosanan akan hidup, sepertinya jiwa-jiwanya perlahan mengeras. Menghirup udara yang sama dan menyaksikan zaman yang melesat meninggalkannya selama beberapa tahun ini.
Ia memejamkan mata dan tak lama terdengar suara langkah kaki yang sedang menghampirinya. Rautnya langsung berubah, dengan sigap ia mengambil tongkatnya lalu berjalan menghapiri langkah kaki itu. Senyumnya hanya berlangsung beberapa detik dan menghilang. "Madam Devi" begitulah panggilannya. Sepucuk surat langsung diberikan kepadanya. Bulir-bulir air mata, yang sekeras mungkin dibendungnya, akhirnya tumpah bersamaan dengan rasa sakit yang ia jalani.
Apa penantian ini sia-sia? Udara dingin menjadi selimut perempuan tua itu. Tatapannya kosong, menyadari anak-anaknya tida bisa mengunjunginya meskipun pilu, dia tidak pernah melepas harapan. Hingga suatu ketika..
Terdengar bunyi ketukan pintu, tak ada suara namun yang didengar hanya ketukan. Karena penasaran, ia buka perlahan dan betapa terkejutnya dia. "Oh tidak kau baru saja membuat ibu sakit, kak." "Ini kan ide mu, kau lah yang salah." Mereka langsung mendekatinya dan mencium kedua tangan yang sudah tampak keriput itu. "Ibu apa kabar?" Bukannya menjawab perempuan itu langsung memeluk kedua orang di hadapannya. "Mak rindu kalian, nak. Mak kira kalian sudah lupa akan mak." harapannya untuk kembali pulang, berkumpul penuh tawa, dan dilimpahi air mata sukacita kini terwujud.
"Seorang anak tidak akan melupakan kedua orang tuanya." Jawabnya.

