Oleh: Ni Wayan Kusuma Putri
Pahit benar kalau dirasa baik-baik. Tidak ada rasa yang sebaik ini jika kita hanya berdiam diri. Renung-renung malam sepi dalam untaian nada tak bersuara hanya merintih, menangis, sedih, luka bagai terkulai lemas. Aku dan jiwaku terpaku dalam nada-nada yang tak bisa di ungkapkan kata demi kata, bait demi bait, dan alur demi alur.
"Aku merindukanmu, Joy," ucapku di balik pintu kayu yang sudah hampir rusak. "Apa yang harus aku lakukan sekarang...?" Tidak, aku tidak menangis melainkan tertawa.. Menertawai betapa malangnya diriku ini.
Cerita panjang yang akhirnya kandas dalam perjuangan sesaat. Melawan takdir adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia tidak berdaya seperti kita, mengubah arang menjadi api, mengubah debu menjadi asap, mengubah angin menjadi hujan. Semua itu adalah hal-hal tersulit yang tak dapat di tembus akal manusia seperti kita, berjuang untuk hidup atau berjuang untuk berkuasa.
"Ana, aku... Aku juga merindukanmu," kata Joy yang terdengar pasrah di telingaku. "Tolong buka pintunya! Ku mohon padamu, kita bisa bicarakan ini baik-baik!" katanya sedikit berteriak. "Maaf" batinku. Aku selalu bertanya-tanya sampai kapan kita seperti ini, kita berdua terlalu egois. Kita sama-sama mementingkan diri kita sendiri tanpa peduli perasaan yang lain.
"Pergilah, hubungan kita sudah berakhir. Jangan pernah kau ke rumahku lagi dan kau tidak perlu menghubungiku, hapus saja nomorku di ponselmu. Aku lelah dengan semua ini. Tak ada satupun dari kita yang akan mengalah. Saat ini perpisahan adalah yang terbaik bagi kita."
"Ana...."
"Tolong dengarkan perkataanku! Aku harap kamu bisa menemukan perempuan yang lebih baik, lebih sabar, lebih pengertian dariku dan aku ucapkan terima kasih padamu, terima kasih karena kamu sudah meluangkan waktu-waktumu demiku," ucapku tegas sambil menahan air mata yang hampir jatuh ke dalam pipiku. "Aku mencintaimu, mungkin ini kali terakhirnya aku mengatakan itu. Jaga dirimu baik-baik"
“Baiklah kalau itu yang kamu mau, aku akan pergi tapi ingat juga perkataanku. Aku tidak akan pernah mau berhadapan denganmu lagi. Kau menjauh, aku juga akan menjauh.” Semenjak itu, aku dan Joy seperti orang asing. Kita tidak berbicara bahkan bersikap seperti tidak mengenal satu sama lain.
Hari yang satu dengan hari yang lain telah berlalu, melantunkan berkat demi keindahan sesaat, membawa pahit duka yang begitu mendalam. Mengubah alur menjadi jalan panjang yang tak berketentuan arah. Mengubah kata maaf menjadi bencana panjang. Aku tak sanggup membawa semua beban yang terkulai lebar sendiri, membawa lari darah yang membawaku dalam ajal kematian. Tapi, kini kesadaranku mulai nyata adanya, bahwa aku dalam hidup ini harus yakin akan merpati putih yang baik dan penuh tanya, memaafkan semua, membuatnya menjadi indah pada waktunya.
"Ya! Aku pasti bisa, tidak ada yang mustahil bagi seorang Ana. Bangkitlah Ana, kamu pasti bisa!" batinku.

