Oleh : Ni Wayan Kusuma Putri
Aku Vara, gadis cupu yang baru pertama kali mengenal tentang cinta dan merasakan apa itu kasih sayang dari orang yang dicintai. Semua itu aku rasakan berkat sahabatku, Key. Sebelumnya hari-hariku penuh dengan hitam putih hingga kemudian hariku kembali berwarna ketika bertemu dia. Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Aku sudah mempercayainya lebih dari diriku sendiri karena bagiku, dia sudah seperti saudara kandung. Akan tetapi semua itu hanya ilusi. Ilusi yang membuatku merasakan penderitaan seumur hidup.
"Vava!" panggil perempuan yang saat ini sedang mengejarku.
Aku sendiri sedang asik mendengar musik dari handphonenya sesekali memejamkan mata menikmati alunan lagunya.
Brug..
Perempuan itu dengan sengaja menabrakku agar aku tersadar bahwa dirinya memanggil namaku berulang kali. Aku yang merasakan ada sesuatu yang menabrakku segera menoleh dan nampak terkejut mendengar napas Key yang terengah-engah. Ya, perempuan itu adalah Key, sahabatku sendiri.
"Key? Kenapa kamu berlari seperti itu? Itu tidak baik bagi kesehatanmu, kamu sendiri kan sudah tahu kalau kondisimu tidak cocok untuk berlari," omelku kepada Key.
"Vava! Kau tau, aku sudah berulang kali memanggilmu tapi kau sibuk mendengarkan lagumu itu.." kata Key dengan nada sedikit kesal,
"Key panggil aku Vara bukan Vava. Itu terdengar seperti nama cowok, aku ga suka," balasku yang tidak terima dipanggil Vava.
"Berhentilah mengoceh, sekarang kita cari tempat duduk dulu. Aku ingin berbicara satu hal penting kepadamu," kata Key dengan tatapan serius.
Aku mengangguk sebagai tanda bahwa aku mengerti dan segera mencari tempat duduk yang ada di dekat kita.
"Di sebelah sana aku melihat ada tempat duduk kosong, kita bisa pergi ke sana Key," kataku sambil menunjuk tempat duduk itu.
"Baiklah, ayo kita pergi ke sana!
Sesampainya di sana..
"Va.." panggil Key.
"Ya Key, ada apa?" tanya Vara heran.
"Kamu tuh lemot kali ya hahahaha.. Di depan matamu udah jelas bangkunya kecil cuma muat satu orang, lalu kenapa kamu saranin tempat duduk yang ini? Ayo pergi, kita bisa cari bangku lain," kata Key sambil menarik tangan Vara. Vara menarik kembali tangan Key dan berkata
"Tidak, kita tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Cukup disini Key. Kamu saja yang duduk aku akan berdiri di sini. Jangan meremehkanku, aku kuat berdiri kok," kataku.
"Baiklah, terserah kamu aja," katanya dengan nada yang terdengar sedikit lesu.
"Kamu baik-baik saja kan Key? Wajah kamu sedikit pucat, apa ada masalah yang terjadi?" tanyaku khawatir.
"Wajah aku pucat? Ah perasaan kamu aja kalik.. Aku baik-baik aja kok, jangan khawatir. Oh ya! Hal penting yang ingin aku bicarakan itu tentang...-"
"Tentang apa Key? Apa ini kabar buruk atau kabar baik?" ucapku memotong perkataan Key.
"Tidak, ini bukan kabar buruk. Melainkan kabar baik karena nanti malam aku akan segera dioperasi." jelas Key
"O-Operasi? Apa maksudmu? Kamu sakit apa Key? Selama ini kamu tidak pernah memberitahuku!" Saat itu aku sangat terkejut, aku bahkan berlutut dan menangis di atas pangkuannya.
"Hey berhentilah menangis! Kau ini sangat cengeng tau justru bagus kalau aku segera dioperasi. Ini bukan penyakit parah jadi jangan terlalu kau pikirkan, ok?" jelas Key kepada Vara.
"Aku tidak tahu apa itu sebuah kebenaran atau kebohongan.. Tapi aku akan selalu berdoa agar operasimu berjalan dengan lancar," kataku.
"Ini sebuah-"
"Key, jam berapa kamu dioperasi? Dan rumah sakit mana? Aku akan segera ke sana..."
"Sekitar jam 8 malam, nanti ibuku akan kirim lokasinya ke kamu,"
Hari ini aku merasa sangat aneh. Aku tidak yakin jika ini firasat baik. Aku harap semuanya berjalan lancar. Oh Tuhan tolong jaga dia, dia adalah wanita terkuat yang pernah aku temui.
" Mungkin itu aja yang aku bisa katakan kepadamu Va, ini sudah hampir sore dan aku harus pulang. Ku tunggu kedatanganmu.." katanya sambi berlari menjauh meninggalkanku sendiri.
06.38 pm
Aku yang sedang sibuk menyiapkan buah-buahan tiba-tiba dikagetkan dengan suara telpon. Biasanya Key yang menelponku tapi kali ini bukan dia.
"Halo? Ini Vava ya?" terdengar suara wanita yang cukup tua di telepon
"Halo, iya ini saya sendiri,ini siapa ya?"
"Ini mama Key nak, maap jika tante mengganggumu tapi tante harus benar-benar menyampaikan semua ini."
Cukup 10 menit berbicang dengan wanita itu. Vava mendadak lesu tubuhnya sudah tidak bisa dia gerakkan. Apa saat itu adalah saat terakhir dirinya bertemu dengan Key? Semua orang yang ia cintai pada ujungnya akan meninggalkannya seorang diri. Hidupnya hanya sebatas hitam putih yang tidak akan pernah ternoda sedikit cairan. Selamat tinggal sahabatku, aku sangat mencintaimu.

