Karya: Ni Wayan Kusuma Putri
Tidak ada manusia yang abadi di dunia. Semua sudah diatur oleh sang penguasa di atas. Saat ini aku berada di ambang antara pintu kematian dan pintu kehidupan. Takdir hidupku memang sudah diatur tetapi aku ingin sesekali mengubahnya. Satu per satu anggota tubuhku terasa hilang. Perlahan-lahan tubuhku menjadi lemas, nafasku sulit terkendali dan penglihatanku mulai kabur.
"Apakah ini yang dinamakan kematian?" pikirku.
Tidak ada laki-laki yang menangis, begitulah pandangan semua orang. Tapi hari ini aku patahkan semua pandangan itu. Saat ini juga aku merasa gagal menjadi laki-laki yang kuat. Karena untuk pertama kalinya aku terdiam dan menangis menjadi-jadi. Kebahagiaanku hilang menyisakan kesedihan yang dalam dan tak kan pernah kulupakan.
Tanganku semakin lama semakin gemetar. Hatiku seperti teriris dengan pisau. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa ku ucapkan. Aku langsung memeluk erat tubuh yang selama ini aku rindukan. Sampai sekarang wanginya belum hilang, masih sama seperti dulu. Aku menatapnya sayu, ku benamkan kepalaku ke dalam tangannya. Berulang kali aku memanggilnya dengan lembut. Tapi yang terdengar hanya suaraku saja, kenapa,kenapa dia tidak menjawabku?
Aku merindukan suaramu, tawamu, tangisanmu bahkan amarahmu. Bukankah kau sudah berjanji kepadaku? Ketika aku pulang kau akan menyambutku dengan baik, membuatkanku masakan yang enak, dan menikmati bulan bersama tapi, sekarang apa yang kau lakukan?. Kau hanya diam dan mengingkari janjimu itu. Lalu untuk apa kau berjanji jika kau tidak mampu untuk menepatinya?
Tidak bisakah takdir kali ini memihak padaku? Kenapa dia selalu merebut orang-orang yang ada di sekitarku? Kenapa dia tidak memgambil diriku saja bukan mereka yang aku sayangi? Beritahu aku, apa yang bisa aku lakukan sekarang? Apa aku harus diam melihat ini?
Aku meneteskan mata untuk kesekian kalinya. Ngilu terasa jauh di balik kulit, di dalam rongga tak berdasar, di suatu tempat yang entah dimana. Penyesalan menyerang bertubi-tubi. Aku menyesali hal-hal yang aku lakukan, dan tidak aku lakukan. Berulang kali aku memutar rekaman di kepala, berharap aku melakukan pilihan yang berbeda. Ribuan andai-andai yang membunuhku pelan-pelan.
Kondisi itu membangkitkan kemarahan dalam diri sendiri. Aku marah karena merasa sedih, lebih lama dari yang aku pikirkan. Aku malu kepada diri sendiri dan dunia. Ketika banyak orang berjuang keras demi orang lain, keluarga, masyarakat, bangsa bahkan dunia, kenapa aku justru tenggelam ke dalam kesedihan ini?
Mungkin ini saatnya aku menerima takdirku, takdir untuk melepas kepergianmu. Selamat jalan istriku, kau adalah wanita yang kuat tak kenal lelah. Semoga Tuhan selalu berada di sisimu.

