Aku tumbuh dalam rapalan doa ibu
Dibasuh gelombang asap dupa wajahku
Tanpa permisi mencumbu ujung kelopak mataku
Memejam kelam, menyelam dalam, singgah ke peraduan waktuitu
Waktu itu, ketika tanganku digenggam erat kakak perempuanku
Tak perlu kompas, layar kami tahu arah berlabuh
Singgah mengisi teluk-teluk mati di antara jemariku
Saling mengayun lugu, patuh pada ritme sendu sang bayu
Tapi, waktu itu tetap jadi waktu itu
Sebelum aku tahu, laju derap kian terengah seiring diuntit waktu
Sebelum aku tahu, selamanya kehidupan tak selalu sudimendekapku yang berpeluh
Yang terpacu, berlari mengejar delusi, sampai peningmembawaku terpelanting ke liang kubur
Atau waktu itu, ketika tanganku terlipat polos di atas meja
Menanti sajian malam racikan tangan
Pada ibu mengeluh, merajuk, tak kuasa menahan gema
Cukup satu kedipan, apa yang kupinta, telah tertata di hadapan
Tapi, waktu itu tetap jadi waktu itu
Sebelum aku sadar, barisan mantraku masih betah menetapsemu
Sebelum aku sadar, aku bukan satu-satunya umat Tuhanku
Yang sudah muak meneguk peluh, memorinya raib manis madu, lantaran cuma ingat esok bertaruh, bertaruh, bertaruh
Semua tahu semua tahu
Potret kerja semesta memang begitu
Maka jangan terjebak waktu itu
Segalanya berubah, tak terkecuali tangguh diriku
Cipt: Yadnya Cakra Cyntia Dewi

