Pada suatu ketika, terdapat dua orang anak yang sedang berkeliling di sebuah mall. Anak itu tidak lain adalah Lala dan Lili. Mereka berjalan santai sambil menikmati suasana di mall karena ini pertama kalinya mereka pergi ke mall. Kedua gadis itu menggunakan kaos polos dengan celana panjang seadanya. Rambut hitam legam mereka diikat ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang menjutai di sekitar dahinya.
Beberapa pengunjung mall secara terang-terangan menatap kedua gadis itu lantas berbisik dengan rekannya. Tetapi mereka bingung kenapa semua orang disini memperhatikan mereka. Ada juga yang menatap mereka risih entah karena apa mereka sendiri pun tidak tahu. Mereka berusaha cuek dan kembali menikmati suasana mall. Sayangnya ketika mereka hendak mengunjungi salah satu toko di mall itu, mereka tanpa sengaja menguping perkataan seorang pria di samping mereka. Tidak, pria itu sengaja menaikkan volume suaranya hingga orang-orang di sekitarnya dapat mendengar perkataannya termasuk Lala dan Lili.
"Lihat pakaiannya para gadis itu, bisa-bisanya penjaga mall membiarkan mereka masuk," kata pria itu.
Lala sudah terlihat emosi karena dia yakin perkataan pria itu ditujukan kepadanya. Sementara Lili berusaha menenangkan Lala dan mengajaknya berkeliling mall lagi tanpa menghiraukan perkataan orang-orang. Lala menerima ajakan saudaranya itu dan emosinya mulai reda.
Mereka memasuki salah satu toko yang menjual berbagai barang yang didominasi warna pastel. Mereka sangat kagum dengan barang-barang disana. Lala sudah berjalan ke kanan untuk melihat berbagai macam jenis tas dengan merek yang mahal sementara Lili pergi ke sebelah kiri untuk melihat berbagai macam buku dan peralatan sekolah lainnya karena Lili pecinta alat tulis.
Mereka sudah diam disana kurang lebih dua jam karena mereka memilih barang yang benar-benar mereka perlukan. Sekilas Lala menyadari kasir tidak suka dengan kehadiran mereka tapi Lala masih bingung alasan dibalik itu semua.
Karena sudah merasa cukup akhirnya mereka memutuskan untuk kembali berkumpul dan membayar semua belanjaannya. Namun mereka harus menunggu karena antriannya cukup panjang dan itu hal wajar untuk tempat yang memang telah dikenal banyak orang.
"Lala, aku kebelet nih. Kamu tetep ngantri disini aku mau pergi ke toilet dulu," kata Lili.
Lala mengangguk dan tetap mengantri sambil menunggu kedatangan saudaranya itu. Lili sedikit berlari mencari toilet dan akhirnya dia menemukan itu. Selama sepuluh menit berada di toilet akhirnya dia merasa lega. Dia hendak mencuci tangan dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat berlari. Lagi-lagi seorang wanita menatapnya, rautnya menunjukkan bahwa dia sedang kesal. Belum apa-apa wanita itu langsung mengajak ngobrol Lili dengan nada sinis.
"Pakaian kamu kayak orang desa," ucapnya.
Lili hanya diam saja dan memutuskan untuk kembali menemui saudaranya. Setibanya disana Lili segera membantu Lala membawa barang untuk dibayar. Kini giliran mereka untuk membayar. Namun ketika hendak membayar kasir terlebih dahulu bertanya kepada kedua bersaudara itu.
"Kalau boleh tahu barangnya buat siapa?" tanya kasir dengan nada judes.
"Buat kami lah mbak, kan kami yang beli," ucap Lala sambil mengeluarkan kartu ATM nya.
"Saya kira buat majikan mbak, soalnya mbak terlihat seperti-" lanjut kasir.
"Maaf kak, walaupun pakaian kami seperti orang desa bukan berarti kami tidak mampu membayar semua itu. Emang ada masalah apa dengan pakaian kami? Selagi pakaian saya masih sopan dan tidak terbuka, apa masalahnya?" potong Lili karena sudah muak dengan omongan orang-orang.
Mendengar perkataan Lili, sang kasir langsung diam dan meminta maaf kepada mereka. Mereka langsung pergi tanpa berbicara sepatah katapun. Dari sini kita diajarkan untuk tidak melihat dari luarnya saja dan jangan langsung berkomentar hal buruk tanpa melihat fakta.

