Diceritakan seorang gadis kecil bernama Leva. Dia merupakan anak terakhir dari ketiga bersaudara. Dia juga satu-satunya anak perempuan di keluarganya. Orang tuanya merupakan seorang pengusaha hebat yang dikagumi banyak orang. Mereka menginginkan kelak anak-anaknya akan meneruskan jejak mereka. Sejak kecil kedua kakak Leva sudah tertarik dengan dunia bisnis sedangkan Leva sama sekali tidak menyukai dunia bisnis. Baginya bisnis sangat membosankan.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar Leva sangat tertarik dengan menggambar. Dengan menggambar dia bisa mengeluarkan semua imajinasi yang ada di otaknya. Hampir setiap hari dia menggambar tanpa memperdulikan tugas sekolahnya. Sesekali orang tuanya mengeluh karena Leva mendapat ranking paling bawah di kelasnya namun Leva cuek dan melanjutkan gambarannya.
Orang tuanya kerap memaksa Leva agar mau masuk sekolah bisnis namun Leva menolaknya dengan mentah-mentah. Kedua kakaknya yang melihat itu langsung menghampiri dan memberi nasehat kepada Leva. Namun Leva justru lari ke dalam kamarnya tanpa mendengar penjelasan dari kedua kakaknya. "Keras kepala" satu kata yang terucap dari mulut ayah Leva. Leva terdiam sejenak dan berpikir apa yang salah dengan menggambar? Apa menggambar perbuatan yang jahat? Leva mengunci pintu kamarnya lalu berbaring sambil memeluk gulingnya.
Hari demi hari berlalu, sudah berbulan-bulan Leva seperti itu. Menggambar dan menggambar hingga hari ini, hari pembagian raportnya. "Apa aku lulus? Huh.. Sungguh pertanyaan konyol" batin Leva. Dia sudah merasa bahwa dirinya tidak akan lulus tapi ya sudahlah.. Nasi sudah menjadi bubur.
Sudah lima menit menunggu akhirnya tiba giliran Leva untuk mengambil raport. Ia berjalan santai dan di sampingnya sudah ada ayahnya yang menemaninya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar kata maaf dari gurunya. Sudah kuduga. Raut wajah cemas sudah dapat dilihat dari wajah ayah Leva. Sedih bercampur amarah, seperti itulah wajahnya ketika mendengar putrinya tidak lulus. Dengan cepat ia menggandeng tangan putrinya dan segera masuk ke dalam mobil menuju rumah.
Sampai rumah ayah Leva menerobos masuk dan mengambil semua gambaran milik Leva. Dia membuang kertas-kertas itu dan membakarnya di depan Leva. Baik ibu maupun kakak Leva semuanya panik dan mencoba menenangkan ayah Leva. Leva terdiam dan mencoba mengambil gambarannya yang sudah menjadi abu.
"Ada apa? Kenapa ayah bisa semarah itu? Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya kak Reo, kakak pertama Leva.
"Aku tidak lulus." Tiga kata itu nyaris membangkitkan amarah kedua kakak Leva. Mereka sudah lelah memberitahu Leva untuk belajar. Daripada marah mereka meninggalkan Leva sendiri dan membawa ibu masuk ke dalam. Satu keluarga hening, tidak ada yang membuka pembicaraan mereka masih terhanyut karena kejadian tadi.
Leva datang dari kamarnya dan menghampiri kedua orang tua serta kakak-kakaknya. "Maaf, aku tidak akan merepotkan kalian aku akan mencoba tertarik dengan bisnis," ucap Leva yang terdengar pasrah. Mendengar ucapan itu kedua orang tuanya langsung menghampiri Leva dan memeluknya. "Tolong maafkan aku," ucapnya lagi.
"Kamu akan sekolah khusus menggambar," kata sang ayah yang membuat Leva sangat terkejut. Ayahnya sadar bahwa dia tidak berhak memaksa putrinya untuk masuk ke dalam dunia bisnis. Leva menangis antara bahagia dan sedih karena tidak bisa meneruskan jejak ayahnya. Intinya semua orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Jangan memaksa seseorang agar bisa di bidang itu karena setiap orang memiliki bakatnya sendiri. Yang terpenting kemampuan itu ia gunakan untuk hal yang baik.

