Seorang gadis perempuan tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah desa yang kumuh. Hanya sedikit penduduk yang terlihat di desa itu dan kabarnya desa itu tempat bekas pembantaian jaman dahulu.
Jendela yang rusak, lantai yang pecah, dan pintu yang tidak bisa dikunci tidak membuat keluarga itu pantang mundur. Dengan keadaan seperti itu, mereka tetap mencoba untuk bersyukur karena sudah diberikan tempat tinggal.
Namun beberapa hari kemudian gadis itu sering mengalami kesulitan tidur karena dia kerap mendengar berbagai suara dari luar rumahnya. Suaranya terdengar jelas dan bahkan semakin lama semakin menakutkan. Dia berusaha menutup kedua mata dan telinganya agar bisa kembali tidur.
Di pagi hari, dia merasa sangat aneh dan segera memohon kepada kedua orang tuanya untuk memperbaiki jendela agar dia tidak bisa mendengar suara itu lagi. Namun sayangnya permintaannya ditolak karena kedua orang tuanya tidak memiliki cukup biaya untuk memperbaiki jendela rumahnya.
Suatu malam, ketika gadis perempuan itu sedang tidur dengan sangat nyenyak di rumahnya, tiba-tiba ia terbangun oleh bisikan tepat di sebelahnya. Ia menoleh dan tidak menemukan apa-apa. Ia memutuskan untuk kembali tidur dan tidak menghiraukan suara bisikan itu. Akan tetapi, semakin lama bisikan itu berubah menjadi teriakan dan mengguncang tempat tidur gadis itu.
Gadis itu membuka matanya dan terkejut melihat sosok yang di hadapannya. Gadis itu seketika ingin memalingkan wajahnya ke arah lain karena takut melihat wajah laki-laki itu namun saat itu usahanya gagal. Laki-laki itu langsung tersenyum ke arahnya dan perlahan-lahan maju mendekati gadis itu.
Gadis itu lalu bangkit dari tempat tidurnya dan menuju kamar orang tuanya. Di tengah malam yang gelap dia memberanikan diri untuk berlari.
"Bu.." panggilku. Ibuku membuka matanya dan heran kenapa aku disini.
"Bu, aku melihat laki-laki di kamarku. Wajahnya seram sekali bu, aku takut," kataku.
"Itu mungkin hanya mimpi kamu, ini masih malam nak sekarang kamu tidur lagi ya," jawab ibu.
Gadis itu diam sejenak namun beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku mau disini bersama ibu dan ayah," ucapku keras kepala.
“Tidak bisa nak, tempat tidur kami kecil kamu akan susah tidur nanti sekarang ayo kembali ke kamarmu," kata ibu.
"Baiklah ibu. Tapi ibu harus menemaniku kembali ke kamarku," kataku.
"Iya nak."
Aku kembali ke kamarku bersama ibu di sebelahku. Aku memegang erat lengan ibu dan masih saja merasa ketakutan. Sesampai di kamar ibu mencoba menidurkan aku. Aku pun terlelap dan kembali tertidur.
Baru saja beberapa menit ibu meninggalkan aku, aku terbangun lagi karena ada yang menarik rambut dan menepuk pundakku. Mataku masih terpejam dan berpura-pura seolah aku masih tidur.
Namun tarikannya semakin lama semakin kuat, rambutku serasa mau rontok karena ditarik olehnya. Aku pun memberanikan diri membuka mata sedikit. Tidak ada yang terjadi, apa tadi ilusi yang aku rasakan?
Ketika aku hendak memejamkan mataku, aku terbangun karena ada seseorang yang mendorongku dari samping hingga aku jatuh. Aku merasa sangat takut dan berteriak memanggil kedua orang tuaku.
"IBU!! AYAH!!"
Kedua orang tuaku berlari mengahampiriku dan melihatku dalam keadaan rambut acak-acakan dan terdapat memar di pundakku. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi namun aku diam saja. Aku bahkan tidak sadar bahwa aku memiliki memar. Aku hanya menunjuk ke arah jendela yang dimana laki-laki tadi kembali muncul di hadapanku. Mereka memelukku dan meyakinkanku agar tidak takut.
Ayahku mulai merasa curiga dengan desa ini. Karena kejadian ini ayahku memutuskan untuk membawaku dan ibuku pergi dari desa ini. Dengan uang hasil kerja kerasnya ia bisa menyewa rumah baru sebagai tempat tinggal kami. Aku harap kejadian ini tidak terulang kembali.

