Aku bangun dari tempat dudukku. Sudah lima belas menit aku diam disini sambil menatap orang berlalu-lalang di tengah keramaian ini. Aku menghembuskan nafasku dan kembali beraktivitas seperti biasa. Sudah berhari-hari aku seperti ini, tidak tau sampai kapan ini akan berakhir. Sangat sulit rasanya menjalani semua ini. Tidak! Aku harus tetap berusaha demi keluargaku.
Jam terus bergerak, detik demi detik bisa ku rasakan. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhku. Suara langkah kakiku sudah terdengar lemas. Untuk hari ini aku memutuskan kembali ke rumah dengan tangan kosong.
Tok..Tok..Tok..
Aku mengetuk pintu rumahku dan nampak seorang perempuan tua yang membukakan aku pintu yang tidak lain adalah ibuku. “Maaf ibu” kataku sambil menundukkan kepala. Aku tidak berani melihat bahkan menatap ibuku sendiri. Hanya kata ‘maaf’ yang bisa aku katakan kepadanya. Aku merasa gagal.
Ibu menghampiri dan memelukku. Dia mengusap kepalaku dan berkata “Tidak apa-apa nak, kegagalan adalah awal keberhasilan. Jangan pernah menyerah dan ingat bahwa ibu akan selalu mendukungmu.” Ucapan ibu membuatku tidak bisa berkata-kata lagi. Ibu membawaku masuk ke dalam dan menyiapkan makanan untukku. Dia tau bahwa aku sudah bekerja sangat keras dari pagi sampai sore menjelang malam.
Sampai sekarang kata-kata ibu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Keesokannya aku berjalan sana-sini dan akhirnya aku menemukan satu pekerjaan yang aku rasa aku mampu. Aku senang usahaku kali ini berhasil. Aku sangat berterimakasih pada ibuku. Andai saja jika dia tidak mendukungku seperti itu mungkin aku akan menyerah dan tidak akan sampai di titik ini.

