Aku mengintip dari balik pohon beringin, agak jauh dari gadis itu. Ia masih duduk bersimpuh di sana. Wajahnya terlihat serius. Tangan indahnya terlihat sedang menggoreskan tinta ke selembar kertas yang ia bawa dari rumah. Kulihat sebutir air mata jatuh dari pelupuk matanya dan diikuti tetes-tetes air mata berikutnya. Ya, dia pasti menulis surat lagi!
Beberapa menit berlalu, dia pun menyelesaikan suratnya dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop merah muda. Aku tetap pada posisiku. Gadis cantik itu pun berdiri, meletakkan amplop itu di tempat biasa, tersenyum, kemudian beranjak pergi. Ketika dia sudah tak terlihat lagi, dengan langkah hati-hati aku mendekati tempat dimana dia meletakkan suratnya tadi. Kuambil surat itu, kubuka perlahan, dan mulai membacanya…
Aku membacanya dengan sangat teliti. Satu per satu kata aku pahami dan tanpa aku sadari air mataku ikut menetes. "Aku menangis?" tanyaku dalam hati. Kata-kata yang ditulis olehnya berhasil membuat hatiku teriris sangat dalam. Kata-kata yang ditunjukkan kepada seseorang melebihi dirinya sendiri.
Selama ini dia tinggal sendirian semenjak ayah ibunya cerai. Ibunya menikah dengan laki-laki lain begitu pula dengan ayahnya. Dia pasti sangat merindukan kedua orang tuanya. Maaf, satu kata yang hanya bisa aku ucapkan. Aku tidak bisa membuatmu bahagia. Aku seorang lelaki pengecut yang tidak berani maju bahkan selangkah pun aku takut.
Aku meletakkan kembali surat itu. Aku memutuskan untuk kembali ke rumahku dan memikirkan sesuatu selama berhari-hari. Dua hari kemudian aku bertemu dengan gadis itu lagi. Kali ini dia tidak menulis, dia hanya diam dalam kesepian. Selang beberapa menit, aku melihat dia menundukkan kepalanya. Tunggu..!
Apa dia menangis? Aku terus memperhatikan dia dan ternyata benar. Dia sedang menangis menyembunyikan tangisannya di dalam kepalanya. Tanganku lemas ingin rasanya menghapus air mata itu dan perlahan-lahan aku mulai melangkahkan kakiku untuk pergi kesana.
Aku bingung dengan diriku sendiri. Dan pada akhirnya dengan penuh keberanian tinggi aku duduk di sebelahnya dan menepuk pundaknya. "Jangan menangis, kamu tidak sendirian. Pasti ada orang lain yang hadir dan menghapus kesedihanmu itu" kataku. Mendadak tangisannya berhenti. Dia menoleh ke arahku seakan-akan dia terhipnotis dengan perkataanku tadi. Tidak lama kemudian dia tersenyum dan mengatakan terima kasih padaku.

