Deg..Deg..Deg..
Jantungku berdetak cukup kencang. Napasku terengah-rengah. Aku baru saja tersadar dan aku terkaget aku ada di mana sekarang? Padahal beberapa saat yang lalu aku sedang membaca buku di kamarku. Tetapi kini aku berada di tengah hutan.
Aku berjalan tanpa arah, mengikuti jalan setapak yang ada di depanku, entah ada di mana aku sekarang. Yang jelas aku takut. Aku melihat seseorang sedang membelah kayu dengan kapaknya di di depan mataku, seorang anak yang mengayunkan kapaknya ke arah kayu hingga menimbulkan bunyi nyaring,
TAK!!! Dia melakukannya berulang-ulang. Aku menyipitkan mataku untuk melihat jelas wajah anak itu dan sepertinya aku mengenalnya. Dia adalah temanku Elisa, aku memanggilnya dengan suara lantang lantas dia menoleh. Aku segera menghampirinya, perasaanku sangat senang karena setidaknya ada orang yang aku kenal.
Aku menyapanya, namun dia tidak menjawabku. Walaupun begitu aku pantang menyerah, aku terus menyapanya berulang kali namun nihil tidak ada balasan satupun. Hingga kesekian kalinya akhirnya dia berhenti mengayunkan kapaknya dan menoleh padaku. BRUK! Aku terjatuh ke tanah karena terkejut melihat wajah Elisa yang berubah menyeramkan.
Aku menutup mataku dan berharap agar dia tidak menghampiriku. Keringat dingin mulai mengucur di sekujur badanku. Tidak, dia tidak akan menghampiriku kan. Pada akhirnya aku jatuh pingsan karena aku terlalu takut. Ketika aku bangun, aku melihat diriku sedang di atas tempat tidur. Aku melihat sekelilingku dan tak salah lagi ini adalah kamarku.
Ternyata yang aku alami sebelumnya adalah mimpi. Aku pun menghembuskan napas lega. Mungkin aku seperti ini karena aku belum berdoa sebelum tidur. Padahal kedua orang tuaku sudah mengingatkanku tentang ini. Betapa menyeramkannya jika kejadian itu benar-benar terjadi.

