Berhubung ini hari Minggu, aku memutuskan jalan-jalan keluar rumah seorang diri. Aku pun sebetulnya telah terbiasa sendiri. Mama selalu sibuk bekerja. Sedangkan papa, aku sudah tak pernah berjumpa dengannya semenjak 7 tahun yang lalu. Tepat sekali, kedua orang tuaku memutuskan untuk pisah ketika umurku masih 9 tahun.
Aku pergi menggunakan kaos putih dengan paduan celana pendek selutut berwarna coklat. Tak lupa aku membawa beberapa novel untuk aku baca sembari menikmati pemandangan di taman. Aku mengedarkan pandanganku di sekeliling taman. Nampaknya semua bangku taman sudah penuh. Hanya satu yang tersisa. Namun, tempatnya dekat dengan keramaian.
Aku tidak ingin pergi ke sana karena aku benci keramaian. Banyak orang berlalu lalang di sana, belum lagi orang-orang yang tengah berolahraga. Aku membayangkan betapa berisiknya disana, sedangkan aku membutuhkan suasana yang tenang, jauh dari kata keramaian.
Namun badanku seolah ditarik oleh bangku itu dan kakiku juga tidak kuat jika berdiri terlalu lama disini. Jadi, aku putuskan untuk duduk di bangku sana. Aku memakai headset walaupun itu membuat konsentrasi ku terbelah menjadi dua, setidaknya itu membuat ku lebih tenang. Sedikit…
Aku mulai membaca novel kesayanganku yang berjudul God Knows Everything. Novel yang mencerikan tentang takdir. Hanya Tuhan yang tahu tentang takdir semua orang. Tak ada orang yang mampu mengubah takdir.
Aku terus fokus membaca novel sambil mendengar lagu-lagu yang soft. Namun seketika fokusku menjadi buyar karena sebuah botol. Aku menoleh dan melihat anak perempuan berambut pendek yang memiliki kulit yang putih. Ia terlihat seperti anak berumuran 4 atau 5 tahun. Parasnya begitu cantik, anak itu sedang menjulurkan botolnya padaku. Akan tetapi aku menolak botol itu secara halus.
Awalnya aku tidak suka dengan kehadirannya karena dia adalah orang asing namun perlahan-lahan aku menerima kehadiran anak kecil itu dan mengajak untuk berbicara. Kami berbicara banyak hal hingga tanpa sadar matahari mulai tenggelam. Dia sangat berterimakasih padaku karena aku mau berbicara banyak hal dengannya.
Sampai akhirnya seorang pria dewasa melambaikan tangannya kepada anak itu. Memanggil nama anak kecil itu dengan sayang. Tubuhku terpaku, aku mengenali wajah pria itu. Air mataku menetes melihat papa setelah sekian lama. Lantas dengan secepat kilat aku membalikkan badan tak mempedulikan anak kecil itu yang kebingungan dengan perubahan rautku. Aku hanya ingin segera pulang dan memeluk mama.

