Tiap kakinya berjongkok di dekat tungku
Kulitnya berkerut dalam rendaman baju
Bergelung di antara busa dan debu
Kaus putih selalu mendekap ibu
Kusodori palet warna warni
Merah, biru, dan kuning
Tak satu pun jadi abdi
Terlanjur larat dan abadi
Aku tak suka kaus putih ibu
Boleh jadi rajutan sederhana
Tapi bagiku,
Putih sebuah peti rahasia
Seribu satu warna disimpan
Merasa, menyedot, menahan
Entah menanti kapan dimuntahkan
Yang tampak hanya ketulusan
Tapi, bagi warnamu ibu
Bila marah, jangan sungkan cipratkan merah
Bila pilu, mari berbagi biru
Bila hilang arah, biarkan bersama dibekap hitam
Mengadu, bercampur, melebur ;
Jadikan aku putihmu ibu
Bukan hanya penonton lugu
Bercak keringat di kaus putihmu
Cipt: Ni Komang Kartika

