Pagi sampai petang
Telah kutimang
Potret senyum sumbang
Juga sebidang dada lapang
Manakala berbagi ladang
Sepetak tanahku dicangkul pendatang
Gembur, subur, dan menghibur
Terbentur panganku yang mengendur
Perut ini mengeluh
Lelah menyecap peluh
Meremang dan mengarang bayang ;
Hasil ladang yang tak kunjung datang
Tatkala asuhku masih macam buruh
Menanti gaji di setiap bulir yang luruh
Semasih rona pamrihku mengeruh
Masihkah berbagi terasa teduh?
Ladangku tersenyum,
Berbisik, sudahi menanti dan menuntut
Berbagi tak berujung rumpang
Tiap celah mengukir setapak jalan pulang
Cipt: Ni Komang Kartika

