Rasanya aku ingin menyerah, lelah akan semua masalah. Hatiku berteriak, "Tak sudikah seseorang menenangkanku? Menghapus tangisku?" Hanya dirinya, ya hanya sang bulan yang bersedia berada di sampingku.
Waktu terus bergerak dan memang tak akan pernah berhenti. Hari berganti hari namun pagi, siang, dan malam pun tak terasa bagiku. Seolah tak kenal lelah, masalah demi masalah terus menimpaku tak henti-henti. Enggan berhenti mengusik kehidupanku. Tengah malam aku selalu berdiri di pinggir jendela. Ditemani angin malam yang terkadang hembusannya membuatku mengeratkan baju hangatku. Merenung dan menatap bulan yang paling bersinar di tengah bintang-bintang. Itulah rutinitasku. Tiap malam kuhabiskan waktuku hanya untuk memandang benda bulat yang bersinar jauh disana.
Aku berkata, “Bulan, bisakah hidupku bersinar seperti dirimu?” tak lama kemudian aku terdiam dan menangis dalam diam. Sunyinya malam seolah membuatku berpikir tak ada yang bisa aku lakukan disini. Sepanjang malam ini, aku hanya bisa berharap agar aku bisa hidup dengan tenang jauh dari kata masalah. Pikiranku terfokuskan pada-Nya merapalkan doa dari lubuk hati terdalam. Berharap akan ada waktunya seseorang mendekapku manakala masalah terus menghantui kehidupanku.
Selama ini aku selalu merasa sendirian. Di saat semua orang tertawa riang, aku malah tertawa meratapi kesedihanku. Hanya tersisa aku dan bulanku. Hanya bulan yang selalu berada di sisiku. Terkadang benakku dipenuhi pikiran, apa tak bisa sinar menenangkan bulan menemaniku sepanjang waktu? Kenapa dirinya hanya mendatangiku ketika hari mulai gelap saja?
Aku menghela napas berat, mungkin tak ada bedanya aku dengan bulan. Untuk menjadi sosok yang bersinar, aku harus melewati banyak hal. Sama seperti bulan yang harus melewati pagi, siang, bahkan sore hari. Begitu pula aku yang harus menempuh pahitnya kehidupan. Mulai kini, aku bertekad tidak akan menyerah dengan mudah. Bulan saja bisa melakukannya, kenapa aku tidak. Inilah kehidupan yang penuh dengan tantangan.

