Mata kami saling memandang. Genggaman erat yang seolah mengatakan tak akan pernah ada yang bisa memisahkan. Si manis bermata cokelat, wajahnya begitu manis dengan tatapan yang begitu lekat. Kami ada di sebuah suasana tenang namun penuh kemeriahan. Entah di dunia mana kami saat itu, yang jelas hanya nyaman yang bisa terasa.
Setiap langkah yang kami ambil seperti membawa kami pergi semakin jauh dan memberikan kesan gembira. Kami begitu menikmati setiap pemandangan yang terpampang di hadapan kami. Meskipun hanya gedung – gedung tua penuh seni yang kami nikmati, tapi detik demi detik yang kami lalui terasa begitu indah. “Seandainya kita bisa bawa pulang pemandangan ini bersama – sama,” dia tersenyum menatapku dan meletakkan perlahan telapak tangannya di pundakku. Ingin sekali aku menimpali kalimatnya, namun aku tidak punya cukup keyakinan untuk berbicara. Tapi aku merasakan, sudah seharusnya aku bersama dengannya seperti ini, mungkin untuk waktu yang panjang.
Dia mengajakku berjalan lebih jauh, kali ini anjing – anjing lucu menyambut kami di depan pintu sebuah rumah kecil, namun jelas nampak sangat asri. Dia menarik tanganku dan membawaku ke rumah anjing – anjing menggemaskan itu, yang entah siapa pemiliknya. Makhluk – makhluk kecil itu melompat kesana kemari dengan girangnya. Mereka mengerumuni kami dan menjilati tangan kami tak henti - hentinya.
“Kalau saja, ada satu dari mereka yang bisa aku tinggalkan buatmu,” ujarnya dengan penuh harap namun tidak terkesan memaksa. Lagi – lagi aku hanya bisa memandanginya sambil tersenyum, meskipun aku masih belum bisa menyahuti perkataannya. Setelahnya, kami keluar dan memberi senyum perpisahan dengan berat hati pada anjing – anjing yang begitu lucu itu.
Dia menggenggam tangan ku lagi. Tak sedetik pun dia melepaskan genggamannya. Aku merasa dia begitu menyayangiku dengan sangat pekat. Kami berjalan perlahan menyusuri kebun teh yang sangat nyaman dipandang mata. Aku seolah tahu kalau aku mengenalnya sejak lama, bahkan dekat sebelum kami punya bentuk dan rupa. Sosok anggun nan lembut yang harusnya kupanggil kakak, bukan hanya saling pandang dan berbagi senyuman.
Langkah kami terhenti di sebuah gerbang besar yang terbuka. Gadis itu memandangi gerbang itu dengan takjubnya, ditengah keraguan ku yang sudah tak bernafsu bahkan ketika aku melihatnya. Dia tersenyum semakin lebar, lalu mengalihkan pandangannya padaku sekali lagi. Entah makhluk indah apa yang sedang menatapku saat ini, tatapannya begitu lembut seperti mengatakan, jangan takut. “Kapan – kapan, kita harus berkeliling seperti tadi lagi. Supaya aku bisa merasakan apa yang seharusnya aku rasakan bersamamu,”katanya. Aku mulai tidak tenang. Tak sepatah kata pun bisa aku keluarkan dari mulutku. Hatiku jadi pilu, setelah lama waktu kuhabisnya bersama kakakku. Aku tidak tahu, tapi aku tidak bisa merasakan ada air mata yang membasahi pipiku sejak dia bicara tadi. Tangan halusnya mengelus lembut pipiku sembari menghapus air mataku. Dia tersenyum lagi, begitu teduh namun makin mengiris hati.
“Larasati, kami menunggumu,” seseorang memanggilnya dari dalam gerbang. Dia melepaskan sentuhannya dari pipiku. Dia berjalan pergi sambil menatapku, tidak bilang apa – apa lagi. Tangisku pecah hingga tubuhku gemetaran. Paras cantiknya menghilang dari pandanganku. Kakiku melemah hingga tak sanggup berdiri lagi. Aku merasakan badanku jatuh terjun dengan cepat, tapi aku merasakan sesuatu yang aneh sebelum aku mendarat. Pipiku terasa basah hingga aku terduduk dan membuka mata. Anjingku menjilati pipiku sejak tadi. Tubuhku lemas, namun entah mimpi apa yang begitu ku nikmati tadi. Aku teringat cerita mamaku 16 tahun lalu. Larasati, menjadi warna kelabu dalam hidup orang tuaku atas kepergiannya. Bayi lemah itu pergi tanpa meninggalkan kenangan apa – apa.

