Dahulu sekali
Aku adalah hal yang paling ditakuti
Aku menjadi momok yang mengerikan
Bagi si dia calon cendikiawan
Namun, aku juga ditunggu
Boleh kata, aku adalah penentu
Penentu kemana mereka akan berkelana
Hanya ada dua pilihan, baik atau buruk
Setengah mati aku diperjuangkan
Demi angka-angka yang membanggakan
Karena itu pula, aku menjadi sombong
Aku lupa manusia-manusia itu bisa nekat
Juru kunci menjadi musuhku disetiap tahunnya
Sedikit senang, jajaran pemerintah itu
Tetap mempertahankanku
Sebagai si penentu
Namun sebentar lagi
Aku akan dilenyapkan
Aku tak lagi ditakuti
Lalu jagat ini penuh sorak-sorai
Cipt : Ni Putu Sasti Wulandari Dwipa

