Dulu, ketika mata ini mulai terbangun
Sosok ramah yang terpancar
Sapa halusnya
Menggetarkan kalbu
Gelap langit berganti embun pagi
Dingin malam merindu sejuknya udara fajar
Sang hari terus berlalu
Masa pun turut terlampaui
Akan tetapi
Kerisauan lubuk tak kunjung padam
Memori yang terlanjur merasuk batin
Ilusi tengik buah kekelaman silam
Ah, daku memang keliru
Ceroboh berujung petaka
Mengubah segalanya
Sirna sudah kelembutan
Dalih geram justru menghantui
Pantaskah?
Andai raga ini punya waktu
Cita hati menanti kebahagiaan
Senyum, tawa, dan segalanya
Ya, seperti dahulu…
Cipt.: Eka Widnyaningdyas

