Judul Buku : Gadis Pantai
Jenis Buku : Novel
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Di Pantara
Tahun Terbit : 2011
Cetakan : Ke-7
Banyak Halaman : 270 halaman
Kategori : Roman Keluarga
Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih akrab disapa Pram adalah salah satu sastrawan besar yang dimiliki Indonesia. Beliau lahir di Blora, Jawa Barat pada tanggal 6 Februari 1925. Putra Sulung dari Kepala Sekolah Institut Budi Oetomo ini telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 41 bahasa asing. Bahkan beberapa karya Pram tersebut dilarang untuk dipublikasikan karena dianggap mengganggu keamanan negara pada masa pemerintahan Soekarno maupun Soeharto. Walaupun berkali-kali keluar masuk penjara karena karya-karyanya tersebut, namun Pramoedya Ananta tidak pernah berhenti menulis hingga berhasil meraih berbagai penghargaan dari lembaga-lembaga luar negeri.
Melalui karyanya yang fenomenal yaitu Tetralogi Pulau Buru, Beliau berhasil menghasilkan empat novel yang membahas tentang roman sejarah pra kemerdekaan, salah satunya nerjudul Gadis Pantai. Saat Pram menyampaikan naskah novel Gadis Pantai kepada penyunting, Beliau menjelaskan bahwa, “kisah ini hasil imajinasi saya pribadi tentang nenek saya dari pihak ibu, nenek yang mandiri dan saya cintai.“
Novel Gadis Pantai menceritakan seorang gadis belia berumur 14 tahun yang memiliki tubuh mungil, kulit langsat, mata agak sipit, dan hidung ala kadarnya. Gadis itu merupakan bunga kampung nelayan sepeng-gal pantai Keresidenan Jepara Rembang. Suatu hari, datang utusan seseorang ke rumah orang tua gadis tersebut. Maksud kedatangan mereka untuk meminta Gadis Pantai menikah dengan Bendoro yang merupakan pembesar dari kota Jawa Tengah. Ayah Sang Gadis menyetujui permintaan tersebut dan Gadis Pantai dinikahkan dengan sebilah keris yang menjadi perwakilan Bendoro.
Mengendarai dua dokar kretek, Gadis Pantai dibawa ke kota dengan diiringi oleh emak, bapak, dua orang pamannya, beberapa saudara, dan lurah kampungnya. Tubuhnya dibalut kain dan kebaya mewah. Lehernya dihiasi kalung emas tipis. Wajah cantiknya pun dilengkapi bedak yang mulai luntur akibat air matanya yang terus mengucur selama perjalanan. Gadis Pantai menangis, Ia sedih karena harus meninggalkan pantai dan orang-orang tersayangnya yang telah menemaninya selama 14 tahun.
Gadis Pantai memulai hidup barunya dengan nama panggilan baru. Seorang bujang memanggil Gadis Pantai dengan sebutan Mas Nganten. Bujang tersebut menjadi pelayan yang membantu segala kebutuhan Gadis Pantai sekaligus teman bercerita banyak hal. Kehidupan Gadis Pantai di kota sangat berbeda saat masih berada di desa. Dulu, Ia bebas bermain di pantai bersama teman- temannya, membantu emaknya di dapur, dan melakukan hal-hal lain yang menyenangkan. Namun, kini hidupnya hanya penuh mengurung diri di kamar, sesekali berjalan-jalan di kebun, dan mengobrol dengan beberapa pelayan. Tidak ada pekerjaan yang bisa Ia lakukan.
Setelah beberapa tahun menjalani hidup sebagai Mas Nganten, Ia harus menanggung rasa sedih karena bujang yang setia menemaninya harus dipecat entah karena apa. Bujang itu meninggalkan istana dan tidak ada kabar. Gadis Pantai telah menanyakan kesemua orang mengenai keberadaan bujang tersebut, namun tidak ada yang mengetahuinya. Ada yang mengatakan bahwa siapa pun yang telah meninggalkan istana tidak akan pernah lagi muncul.
Tidak lama setelah kepergian bujang setianya, Gadis Pantai diberikan bujang baru bernama Mardinah. Mardinah berumur 14 tahun dengan tubuh yang tinggi, parasnya cantik, kulitnya pun bersih. Gadis Pantai kadang tidak percaya bahwa Mardinah adalah seorang pelayan apalagi sikap Mardinah yang kurang baik kepada Gadis Pantai. Mardinah juga kedapatan ingin membunuh Gadis Pantai. Hal itu membuat warga desa tempat asal Gadis Pantai lahir murka, mereka memberikan hukuman kepada Mardinah dengan menikahkannya dengan Dul Pendongen.
Sampai akhirnya, Gadis Pantai tahu bahwa pernikahannya dengan Bendoro hanya percobaan yang nantinya Bendoro akan menikah dengan wanita yang sederajat. Singkat ceritanya, Gadis Pantai dikabarkan mengandung setelah kepulangannnya berkunjung ke desanya. Gadis Pantai kemudian melahirkan seorang anak perempuan. Setelah Ia melahirkan, Bendoro menceraikannya dan mengambil anaknya. Gadis Pantai yang dipenuhi kesedihan tidak ada kekuatan kembali ke kampung halamannya.Ia memilih pergi ke Blora mencari bujang setianya yang telah dipecat.
Kelebihan novel ini ada pada alurnya yang mampu menyita perhatian pembaca agar terus mengikuti kelanjutannya hingga akhir. Kisahnya seakan-akan mampu membawa pembaca masuk ke dalam cerita dan menyaksikan kejadian demi kejadian dalam novel tersebut. Bagian sedih dalam cerita Gadis Pantai dapat menyentuh hati pembaca. Apalagi novel ini berisikan mengenai kritik sosial zaman itu yaitu mengenai adanya paham feodalisme. Feodalisme menurut Wikipedia adalah struktur pendelegasian kekuasaan sosiopolitik yang dijalankan kalangan bangsawan/monarki untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaimnya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra.
Kekurangan novel Gadis Pantai ini ada pada bahasanya yang memang seperti mengikuti zaman saat cerita tersebut berlangsung. Ada beberapa kata yang memang kurang bisa dimengerti. Selain itu, penggunaan bahasa daerah di beberapa kalimat juga tidak dapat langsung pembaca pahami karena perbedaan daerah asal dengan Sang penulis. Walau penyampain cerita yang sederhana, namun penggunaan beberapa katanya yang sulit dimengerti menyebabkan kebingungan sehingga maksud cerita tidak tersampaikan dengan baik.
Novel Gadis Pantai ini sangat bagus dibaca bagi orang-orang yang sangat ingin tahu mengenai kehidupan atau kisah romansa sebelum kemerdekaan. Nilai-nilai kehidupan dalam novel ini juga beragam. Namun, bagi yang tidak tertarik dengan kehidupan pra kemerdekaan mungkin akan cepat bosan karena beberapa katanya yang tidak dapat dimengerti secara langsung apalagi bagi masyarakat di luar pulau Jawa.

