Sebagian orang menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan. Tidak bagi laki – laki berkacamata ini, matematika justru mengantarnya melalang buana. Siapa dia?
Raka, begitulah teman-teman kerap menyapanya. Laki – laki kelahiran Denpasar, 7 Maret 2001 ini kini duduk di kelas X MIPA 8 Foursma. Sekilas, tak ada yang istimewa darinya. Namun siapa sangka, dibalik wajah polos dan kemurahan hatinya, ia memiliki segudang prestasi yang membanggakan.
Ia adalah I Nengah Raka Swastika, sang maestro matematika. Berawal dari cibiran temannya ketika SD, Raka kecil memulai perjalanan panjangnya. “Soalnya termotivasi dari temen yang sempat memandang remeh aku. Jadinya, aku pengen tunjukin ke dia kalau aku bisa jadi lebih baik dari yang dulu,” curhatnya ketika diwawancarai via line, Kamis (23/2). Berbagai cara dilakukan cowok pencinta ayam betutu ini, salah satunya dengan ikut les private.
Gagal pada lomba pertama tak surutkan langkahnya. Ia bangkit dari kekalahan. Hingga juara Harapan 2 diraihnya pertama kali saat kelas 5 SD pada ajang Olimpiade Matematika tingkat SD se-Bali. Sejak itu, semangatnya membara untuk terus berlomba. Prestasi lainnya yaitu peraih medali perunggu pada ajang OSN bidang Matematika, peraih medali emas dalam ajang Olimpiade bidang Kimia Undiksha tingkat SMA se-Bali. Yang paling membanggakan adalah matematika membawanya hingga ke negeri orang. “Awalnya aku ikut lomba namanya KMNR, nah lombanya ini tingkat nasional. Dua puluh orang yang dapat medali dilombakan ke Singapore.” Tak disangka, cowok bertubuh tinggi 175cm ini memenangkan medali perunggu dan mendapat penghargaan merit. Ia mengaku senang karena selain berlomba, bisa sekalian jalan – jalan.
Suka duka menjadi anak olimpiade telah dicicipi laki-laki yang bercita cita menjadi pengusaha sukses ini. “Senang dapat banyak pengalaman, nambah temen juga. Waktu menang itu rasanya lega”. Dari situ dirinya mengetahui kemampuan dan pembinaan anak - anak di luar Bali. “Dukanya rankingku jadi turun, sempat frustasi sih gara-gara itu. Sama jadi sibuk gitu,” sambungnya. Meski demikian, cowok penggemar warna biru ini tak pernah menyerah. Tujuannya hanya satu: membahagiakan orang tua. Untuknya, tak ada yang lebih indah dari senyum di wajah ayah ibunya. Dan lewat dunia matematika, dia percaya akan mewujudkannya. “Pada deretan angka – angka rumit itu, kugantungkan mimpiku”. (dm)

