Berangkat dari kegemarannya membaca dan menulis, Saidah Rossalia Febryanti dari Denpasar mulai menapaki proses berkarya melalui pengalaman mengikuti lomba mading digital.
Kecintaan pada tulisan sering kali lahir dari kebiasaan sederhana: membaca dan mengagumi karya orang lain. Hal itulah yang dirasakan Saidah Rossalia Febryanti, remaja yang akrab disapa Rossa atau Ocha, saat mulai menaruh minat pada dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku kelas 9 SMP.
Lahir di Denpasar, 14 Februari 2009, Rossa tumbuh sebagai pribadi yang gemar memperhatikan detail, terutama dalam tulisan. Ia sempat memiliki niat untuk bergabung dengan Sastra Gita, ekstrakurikuler jurnalistik di sekolahnya. Namun, urung dilakukan karena waktu kelulusan yang semakin dekat. Meski begitu, ketertarikannya pada dunia sastra tidak pernah benar-benar hilang.
Rossa mengaku senang membaca berbagai karya, mulai dari tulisan sastra teman-temannya hingga AU (Alternate Universe). Dari sana, muncul keinginan untuk memiliki tulisan sendiri, tulisan yang rapi, tertata, dan menurutnya “cantik”. Keinginan tersebut akhirnya mendorongnya bergabung dengan MP sebagai ruang untuk belajar dan berkembang.
Di luar aktivitas menulis, Rossa dikenal dengan selera yang fleksibel, terutama soal makanan dan minuman. Meski mudah berubah, ia memiliki favorit yang cukup konsisten, seperti nugget, mie ayam, dan Fruit Tea Blackcurrant.
Pengalaman baru Rossa bertambah saat ia mengikuti Mading Digital IDN Times Xplore 2025, sebuah lomba mading digital yang dilaksanakan secara online dan berskala nasional. Keikutsertaannya berawal dari keinginan mencoba, sekaligus sebagai pelampiasan karena sebelumnya belum sempat mengikuti lomba yang diminatinya. Awalnya, ia mengira konsep lomba ini serupa dengan mading pada umumnya, namun kenyataannya jauh lebih kompleks.
Alih-alih merasa terbebani, Rossa justru memilih untuk menghadapi tantangan tersebut. Bersama Citra, Kaysha, dan Wangi, ia tergabung dalam tim Laskar Madyapadma yang mengangkat tema “Eco-Warrior Mode: ON! Sekolah Asri, Bumi Berseri”, dengan fokus pada isu lingkungan.
Bagi Rossa, bagian yang paling berkesan dari seluruh proses tersebut justru terletak pada timnya. Meski baru mengenal anggota timnya melalui proses seleksi lomba, ia merasa hubungan di antara mereka terjalin dengan sangat mudah. Tidak ada rasa canggung atau kaku; kebersamaan itu terasa alami, seolah sudah berteman sejak lama.
Dalam lomba tersebut, Rossa secara pribadi menaruh harapan besar pada kategori reels, mengingat kategori ini memiliki penilaian dan nominal hadiah yang berbeda. Usaha tersebut berbuah hasil ketika ia berhasil meraih MVP Bali, NTT, dan NTB, sebuah kategori penghargaan yang diberikan kepada peserta terbaik di tiap wilayah.
Pencapaian tersebut menjadi penutup yang berkesan dari seluruh proses yang ia jalani. Namun, bagi Rossa, pengalaman mengikuti lomba ini bukan semata soal kemenangan. Lebih dari itu, ia menemukan keberanian untuk mencoba, kesungguhan dalam berproses, serta rasa puas ketika usaha yang dijalani bersama tim akhirnya membuahkan hasil. Dukungan, kebersamaan, dan rasa saling merangkul yang tumbuh di antara mereka justru menjadi bagian paling bermakna, sebuah pengalaman yang terus ia ingat, bahkan setelah lomba berakhir. (gan)

