"Gagal urusan nanti, yang penting kita berani mencoba" merupakan motivasi Ai Iswarama untuk mulai terjun dalam warna-warni dunia penelitian. Keberanian ini mampu mengantarkannya sampai kancah internasional.
Ai, begitulah sapaan akrab dari teman-temannya. Setelah menghabiskan ((6 hari)) bermalam di Negeri Ginseng, gadis yang selalu menjalani hari-harinya dengan ceria ini baru saja mendaratkan kakinya di tanah air pada 2 (dua) Agustus lalu, tepat di Hari Raya Suci Galungan. Ia berangkat bukan hanya untuk menikmati cerahnya musim panas di Korea Selatan. Gadis bermata bulat ini mengikuti sebuah lomba internasional bergengsi yakni World Invention Creativity Olympic (WICO), lomba penelitian pertamanya.
Gadis yang sedang menempuh ilmu di SMA Negeri 3 Denpasar ini menyebutkan dirinya sudah lama tertarik dengan penelitian. Tapi, gadis berzodiak taurus ini mengaku dirinya masih awam dan bingung harus mulai darimana untuk terjun ke dunia riset. Berkat ajakan dari seorang kakak kelasnya, gadis ini memberanikan diri untuk mencoba menyelami riset. WICO menjadi pijakan pertamanya untuk mengukir prestasi dalam bidang penelitian. "Dengan mengikuti lomba penelitian di internasional, saya ingin ini bisa menjadi awal mula yang bagus untuk saya dan menjadi bekal apabila saya mengikuti lomba-lomba penelitian selanjutnya," papar gadis berusia 16 tahun ini.
Tekad yang bulat dan dapat dukungan penuh dari keluarganya mampu mendorongnya untuk lebih semangat dalam mempersiapkan lomba ini. Meskipun harus mengorbankan waktu bersama keluarga dan teman-temannya, tetapi gadis berambut panjang ini selalu bersemangat menyiapkan lomba WICO. Gadis pecinta motor vespa ini beserta tiga rekan setimnya membuat rompi anti peluru series empat dengan bahan serat daun gebang dan serat daun pandan. Mereka melakukan penelitian ini dalam waktu yang relatif singkat, tidak lebih dari satu bulan. Proses pembuatannya ini termasuk lumayan memakan waktu karena mereka perlu menganyam serat-serat tersebut dan harus sangat rapat agar bisa menahan tembakan peluru yang tajam. Menganyam bukanlah hal yang mudah dilakukan, apalagi dalam waktu yang singkat. "Kami sudah stress. Menganyam ini prosesnya lama dan susah, sedangkan kami perlu sekitar 50 anyaman yang kecil agar pelurunya tidak tembus," tegas gadis berkelahiran lima Mei ini.
Saat hasil anyamannya sudah cukup terkumpul, mereka melakukan uji coba penembakan saat pagi hari, tepat disaat deadline pengumpulan proposal pada 20 Juni. Namun, ada sedikit kendala. Seharusnya rompi itu di press dengan kekuatan tinggi, tetapi saat itu mereka hanya memanfaatkan bahan yang ada. Hasilnya sedikit mengecewakan, pelurunya tembus melewati rompi mereka. Putus asa, kata yang tepat mewakili perasaan gadis berkelahiran tahun 2007 ini. "Saat itu rasanya saya sangat gelisah. Saya berpikir, saya tidak jadi berangkat ke Korea. Disitu saya sangat sedih dan mulai menangis memikirkan jika usaha yang selama ini saya lakukan ternyata sia-sia," ungkap gadis berkulit sawo matang ini.
Meskipun demikian, gadis bungsu di keluarganya ini tidak pantang menyerah. Semangatnya tidak mudah padam. Maka ia kembali bangkit berbekal motivasi kegagalan itu pasti selalu ada dalam semua kegiatan, yang harus dilakukannya adalah kembali berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, gadis yang tertarik dengan desain ini kembali maju dan berusaha meraih hasil yang sedang menanti di depannya. Berkat semangat dan rasa percaya dari keluarga serta teman-temannya, gadis yang mempunyai keinginan melanjutkan pendidikannya di Universitas Institut Teknologi Bandung ini berhasil berangkat ke Korea Selatan pada 26 Juli lalu.
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Itulah peribahasa yang cocok menggambarkan proses kegiatan penelitian yang digarap oleh gadis bertubuh mungil ini beserta kawan-kawannya. Walaupun mengalami banyak kendala, mereka berhasil menyabet medali silver dalam ajang bergengsi tersebut. Penelitian memang tidaklah mudah, tetapi melalui penelitian gadis yang lahir pada hari Sabtu ini mengaku mendapatkan banyak pengalaman menarik dan pengetahuan baru. "Saya berharap, teman-teman yang lainnya bisa lebih tertarik dengan dunia riset karena itu sangat menyenangkan. Selain itu, saya harap saya bisa terus mencatat prestasi dan semakin semangat untuk mempelajari hal baru," akhirnya. (ris)

