"Ketika kita mandi menggunakan sabun, kita akan menjumpai kimia," tutur Komang Indra Parama Arta, si pecinta ilmu kimia.
Sebagian orang menganggap bahwa kimia merupakan pelajaran yang rumit dan menyeramkan. Sehingga tak sedikit pelajar yang kurang menyukai mata pelajaran tesebut. Namun berbeda dengan pria yang akrab disapa Indra ini. Lelaki asal Buleleng ini justru begitu tertarik dengan kimia sedari kecil.
Indra tahu bahwa memahami pelajaran kimia tak semudah membalikkan telapak tangan. Laki-laki 17 tahun ini tidak ambil pusing akan hal itu. Ia justru kian tertantang. "Aku merasa bahwa kerumitan itulah yang menghasilkan sesuatu bagi kita, " tutur pria kelahiran 12 Juli 2005 ini.
Menyadari adanya potensi dalam diri, membuat pria berzodiak Cancer ini berkeinginan untuk lebih mengasah bakatnya melalui dunia olimpiade. Awalnya Indra menekuni semua bidang sains, seperti matematika biologi, fisika, dan kimia. Namun putra ketiga dari pasangan Putu Pertama Yasa dan Gusti Ayu Made Ariani ini memutuskan untuk fokus pada bidang kimia.
Ia mulai mengikuti ajang olimpiade di jenjang kelas 5 SD, setelah melalui seleksi pemilihan 3 besar siswa teladan di sekolahnya. Meskipun saat itu belum membuahkan hasil yang maksimal, alumni SD Negeri 10 Kesiman ini tak patah semangat. Ia tetap gigih menyelami dunia sains.
Bahkan kala duduk di bangku SMP, tanpa memperoleh bimbingan dari sekolah ia tetap tekun belajar mandiri. Ia mulai melatih mentalnya agar lebih berani dan kuat. Soal dan materi olimpiade ia pelajari melalui buku khusus olimpiade dan juga internet. Dukungan penuh yang ia peroleh dari keluarga, guru, serta teman-temanya membuat pelajar yang hobi membaca buku ini termotivasi untuk terus semangat. Ia pun tetap aktif mengikuti ajang olimpiade semasa SMP.
Perjuangannya dalam menggeluti dunia olimpiade kimia terus ia lanjutkan di bangku SMA. Apalagi di sekolahnya saat ini memberi dukungan lebih berupa bimbingan dari sekolah. Sehingga mampu membantunya memantapkan bakatnya.
Namun setiap usaha tentu akan diwarnai oleh berbagai rintangan. Ada kalanya Indra merasa jenuh dengan pelajaran kimia, terlebih ketika ia kesulitan memahami materi. Waktu bermain dan liburan pun harus ia korbankan demi meningkatkan kemampuannya di bidang kimia.
Berkat dukungan guru dan orang terdekat serta tekad dalam diri untuk terus melangkah maju membuatnya pantang mundur dan tetap berdiri kala kegagalan menghampiri. "Malu selesai di tengah jalan. Padahal masih ada kesempatan yang bakalan kita lalui prosesnya," ungkapnya.
Bak kata orang bijak, “Hasil Tidak Akan Mengkhianati Usaha”, pengorbanan dan kerja keras Indra terbayarkan dengan prestasi yang ia raih. Adapun sederet prestasi yang menghiasi masa SMA-nya. Juara 1 Olimpiade Merdeka Science Competition (MSC) Bidang Kimia Tingkat Nasional Tahun 2022, Juara 3 Olimpiade Kimia Insight (OKI) Tingkat Nasional Tahun 2021, Juara 2 Olimpiade SSC Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Tingkat Nasional Tahun 2022, dan berbagai juara lainnya.
Di sisi lain, sebagai angkatan pertama dari SMAN 9 Denpasar, membuat penyuka ayam goreng ini terdorong untuk mengharumkan nama sekolahnya agar tidak dipandang sebelah mata. Sebab ada saja pihak yang menganggap bahwa sekolah baru tidak akan mampu bersanding bersama sekolah yang telah lama berdiri.
Tetapi pria yang mengidolakan Maudy Ayunda ini tak mau ambil pusing. Ia malah merasa heran dengan siswa yang acapkali bersikap tinggi hati karena menjadi siswa di sekolah unggulan, namun tidak pernah berkontribusi untuk sekolahnya.
Motto sekolahnya, yaitu 'Karma Wairagya' yang memiliki arti bahwa bekerja tanpa mengikatkan diri pada hasil, melainkan melihat proses sebagai pencapaian, ia jadikan sebagai acuan untuk tidak berpuas diri dan menggelorakan semangatnya untuk mencetak lebih banyak prestasi.
Melalui prestasi yang diraihnya, pria yang bercita-cita menjadi dokter ini ingin membuktikan bahwa sekolahnya mampu dan tidak layak direndahkan. "Jangan buat namamu besar karena almamater sekolah, tapi buatlah nama sekolah besar karenamu," pungkasnya.(put)

