Ni Luh Sukayani, begitulah namanya. Seorang gadis dari desa kecil nan sederhana. Namun sukses menjadi wanita yang mematahkan patriarki, melawan tuberkolosis, hingga menggapai ‘bulannya’.
"Ini ceritanya disuruh nostalgia lagi gitu ya?" canda Ni Luh Sukayani ketika bercakap-cakap di teras depan rumahnya sembari asyik menyiram tanaman. Menjadi wanita karir kantoran mulanya bukan hal yang diharapkan oleh keluarganya. "Kalau jadi anak gadis katanya kerjanya harus ngurus keluarga, bersih-bersih rumah, bantu orang tua jualan, sama mebanten," cerita ibu satu orang anak ini.
Walaupun wanita kelahiran 1980 ini tahu dirinya terkendala soal biaya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi, namun Evik, begitu sapaannya, tetap belajar dengan giat. "Sampai merengek saya minta dikuliahin, tapi ya gak bisa. Ibu dan bapak sudah beban biayain hidup dua orang anak. Mereka milih biayain modal kerja kakak laki-laki saya, karena mereka menganggap kalau laki-laki lebih gampang sukses. Jadi ya saya ngalah kasian orang tua," papar wanita kelahiran Badung ini.
Meskipun orang tuanya tidak cukup mengapresiasi prestasinya di sekolah, wanita yang hobi berkebun ini tetap menorehkan prestasi akademiknya. Kendati ada teman yang lebih memiliki ‘hak istimewa’. Bila temannya dapat dengan mudah membeli buku pelajaran dan alat tulis, berbeda keadaannya dengan Evik. Ia mesti membantu sang ibu berjualan terlebih dahulu untuk membeli barang serupa. "Terus dulu saya sering ketinggalan pelajaran karena sempat kena tuberkulosis. Tapi ya tetap saya jadi peringkat pertamanya," ucap wanita berparas cantik ini sambil tertawa kecil mengingat masa sekolahnya.
Tidak diijinkan melanjutkan ke perguruan tinggi, wanita berambut lurus panjang ini bekerja keras mencari jalan menuju karirnya saat ini. Meski orang tuanya berharap ia mengurus keluarga di rumah saja. "Padahal nggak diijinkan tapi saya coba test di Perhubungan. Tapi nggak lolos karena sempat sakit dulu. Terus saya kerja di Smansa jadi pegawai honorer, baru saya berani ikut test CPNS,” ujarnya. Pertama kali mencoba, Evik gagal. Tetapi dirinya tidak menyerah begitu saja. “Saya terus coba belajar siang malam, sampai empat tahun akhirnya di 2015 saya lolos testnya," imbuhnya.
Mimpinya mungkin bagi sebagian orang biasa saja. Namun beberapa lagi menanggap mimpinya mustahil untuk seorang wanita dari sebuah desa kecil. Namun bagi wanita dari keluarga yang masih masuk dalam kategori “tradisional”, pekerjaan Evik yang saat ini adalah segala hal yang tidak malu untuk diimpikannya dan menjadi alasannya bekerja keras. "Nggak seberapa, tapi jadi PNS udah cukup buat saya tenang di masa tua nanti. Nih, buktinya saya sekarang malah asyik ngerawat tanaman," gurau ramah wanita pantang menyerah ini. (cik)

